Imam Besar Al Azhar Kutuk Pembunuhan Guru di Prancis
Al Tayeb juga mengatakan, menghina agama lain atas nama kebebasan berbicara dapat mengundang kebencian.
Imam Besar Al Azhar Mesir, Syekh Ahmad Al Tayeb mengutuk pemenggalan seorang guru di Prancis setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad di depan kelas. Al Tayeb juga mengatakan, menghina agama lain atas nama kebebasan berbicara dapat mengundang kebencian. Hal itu diungkapkan dalam pidato yang dibacakan pada Selasa.
Pidato itu ditulis Al Tayeb dan dibacakan di Capitol Square, Roma, di depan sekumpulan pemimpin agama dari Kristen, Yahudi, dan Buddha termasuk Paus Fransiskus dan Rabbi Prancis, Haim Korsia.
"Sebagai seorang muslim dan Syekh Al-Azhar, saya nyatakan bahwa Islam, ajarannya dan Nabinya tak bersalah atas kejahatan teroris yang kejam ini," tegasnya, merujuk pada pemenggalan Samuel Paty pada Jumat lalu.
"Pada saat yang sama, saya tekankan menghina agama dan menyerang simbol-simbol sucinya di bawah panji kebebasan berekspresi adalah dobel standar intelektual dan undangan terbuka bagi kebencian," lanjutnya, dikutip dari Times of Israel, Kamis (22/10).
Paty (47), diserang dan dibunuh pemuda 18 tahun saat pulang ke rumahnya dari SMP tempat dia mengajar di Conflans-Sainte-Honorine, dekat Paris.
Dia sebelumnya menunjukan ke siswanya kartun Nabi Muhammad, membuat geram salah seorang wali murid yang kemudian memimpin kampanye online melawan guru tersebut dan memiliki kontak dengan pelaku yang menyebabkan kejahatan tersebut terjadi, seperti diungkapkan hasil penyelidikan.
Pelaku, Abdullakh Anzorov, mengunggah foto badan guru yang telah dipenggal di Twitter sebelum ditembak mati polisi.
"Teroris ini tidak mewakili agama Nabi Muhammad SAW, sebagaimana teroris di Selandia Baru yang membunuh Muslim di masjid tidak mewakili agama Yesus," tegas Imam Al Azhar.
Polisi telah menangkap 16 orang, termasuk radikal Islam dan empat anggota keluarga Anzorov.
Pada September, Al-Azhar mengecam keputusan majalah Charlie Hebdo untuk menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad, saat sidang pelaku teror 2015 di kantor majalah satir itu dimulai.
Pada Februari 2019, Paus Fransiskus dan Ahmad Al-Tayeb menandatangani dokumen "persaudaraan umat untuk perdamaian dunia" mengutuk ekstremisme agama dan teroris.
(mdk/pan)