Ikut demo di Ukraina, mantan petinju Vitaly Klitschko terluka
Penerapan bahasa Rusia sebagai basah pendamping dianggap mengembalikan Ukraina ke era Uni Soviet.
Juara dunia tinju kelas berat versi WBC asal Ukraina, Vitaly Klitschko, terluka terkena gas airmata saat mengikuti unjuk rasa menolak penetapan bahasa Rusia sebagai salah satu bahasa regional negara itu. Demonstrasi besar-besaran di depan sebuah gedung berakhir ricuh itu berlangsung dua hari setelah turnamen sepakbola Eropa, Euro 2012, selesai digelar.
Klitschko tidak hanya hadir sebagai peserta. Dia memimpin massa partai pimpinan mantan petinju itu, Udar. Sekitar seribu pegiat kalangan antipemerintah turun ke jalan, seperti dilansir dari BBC, Rabu (4/7).
Keributan antara pengunjuk rasa dan polisi huru-hara pecah sesaat sebelum Presiden Ukraina, Viktor Yanukovich, berpidato. Demonstran melempari aparat keamanan dengan botol dan kaleng cat semprot. Alhasil tidak hanya pengunjuk rasa terluka, 10 polisi pun dilarikan ke rumah sakit lantaran cedera.
Unjuk rasa itu dipicu lantaran Yanukovich bakal menyetujui rancangan undang-undang agar bahasa Rusia dimasukkan sebagai bahasa pendamping di Ukraina bagian Timur dan Selatan. Kelompok oposisi menuding presiden Ukraina terlalu dekat dengan Negeri Beruang Merah.
Dalam undang-undang baru itu tercantum para pejabat pemerintah daerah boleh menggunakan bahasa Rusia jika 10 persen dari jumlah keseluruhan warga setempat memakai bahasa itu sehari-hari. Kebijakan itu juga membolehkan agar bahasa itu dipakai dalam lingkungan administrasi sipil, pengadilan, kepolisian, sekolah, rumah sakit, dan lembaga lain di daerah itu.
Petinju Vitaly Klitschko mengatakan hal itu merupakan bunuh diri politik. Dia mendesak agar anggota parlemen oposisi segera memboikot dewan rakyat.
Setelah memutuskan pensiun dari dunia tinju pada 2005, Klitschko mulai terjun dalam dunia politik. Tetapi dalam ajang pemilihan gubernur Ibu Kota Kiev, dia kalah dari saingannya, Leonid Chernotvskyi. Tiga tahun kemudian dia berhasil duduk sebagai anggota parlemen. April 2010, dia mendirikan partai bernama Udar of Vitaly Klitschko dan menjadi oposisi pemerintah sampai sekarang. Tahun ini pun dia bakal bertarung dalam memperebutkan kursi walikota Kiev.
Sementara itu juru bicara parlemen Ukraina, Volodymyr Lytvyn, mengatakan dia merasa dirinya dan negara dibodohi. Dia dan beberapa stafnya langsung mengajukan pengunduran diri. Tujuh anggota parlemen marah atas keputusan meloloskan undang-undang itu dan melakukan aksi mogok makan.
Tidak hanya itu, anggota parlemen kalangan oposisi menyatakan jika hal itu terjadi maka bakal mencederai kedaulatan Ukraina dan kembali berada di bawah bayang-bayang Moskow, seperti terjadi pada masa Uni Soviet. Selain itu, dengan diberlakukannya beleid itu seakan makin meroketkan pengaruh Rusia di wilayah Eropa Timur.
Namun, peraturan itu tidak mengikat. Rakyat Ukraina boleh memilih bahasa apa yang akan mereka gunakan saban hari dan posisi bahasa Ukraina sebagai bahasa nasional tidak bergeser.
(mdk/fas)