Hampir mati disiksa, mahasiswa Thailand ingin perpeloncoan dihapus
Hampir mati disiksa, mahasiswa Thailand ingin perpeloncoan dihapus. Dia disuruh seniornya menyeberangi danau di kampus. Dia tenggelam dan sempat koma selama tiga hari. Perpeloncoan di kampus Thailand sudah berlangsung lama.
Chokchai Thongnuakao, 19 tahun, mewakili mahasiswa Thailand meminta pemerintah agar menghentikan kegiatan perpeloncoan di kalangan mahasiswa baru.
Hal ini dilakukannya bukan tanpa alasan. Dia hampir tewas saat diperintah senior berenang menyeberangi danau di kampusnya. Saat hampir tiba di sisi lain danau, dia mengalami kram dan membuatnya tenggelam.
Chokchai sempat koma selama tiga hari. Dokter yang menanganinya menjelaskan bahwa air kotor danau menyebabkan dia menderita radang paru-paru.
"Sebagai anak baru, aku harus melakukan apapun yang diperintahkan oleh senior," kata Chokchai pada Reuters, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (13/11).
Kasus ini semakin memperkuat kampanye untuk menghapus ritual perpeloncoan kontroversial dan kadang mematikan yang telah digalang selama dua bulan terakhir sejak awal tahun akademik pada bulan Agustus.
"Contoh kasus ekstrem lain yang terjadi adalah senior yang meneteskan lilin di lengan mahasiswa atau memaksa mereka terjun bebas ke dalam air atau lumpur," kata Panuwat Songsawatchai, anggota dari kampanye kelompok terhadap perpeloncoan, ANTI-SOTUS (Senioritas, Order, Tradisi, Persatuan dan Roh) yang memiliki 77.000 pengikut di Facebook.
Pada 2007, seorang mahasiswa baru dibakar hidup-hidup setelah disuruh berguling-guling di atas api unggun. Lima tahun kemudian seorang mahasiswa meninggal akibat luka setelah dipukul oleh senior.
Thailand telah melaporkan ada lima kematian akibat perpeloncoan dalam dekade terakhir.
"Bagaimana Departemen Pendidikan membiarkan ini berlangsung begitu lama?" kata Panuwat.
Juru bicara kementerian Chaiyot Imsuwan berkata, "Meskipun Departemen Pendidikan telah mengeluarkan kebijakan bahwa upacara penerimaan mahasiswa baru harus dilakukan dengan cara 'menghormati hak asasi manusia dan kesetaraan, tidak ada kekerasan'. Namun, kebijakan itu tidak benar-benar diterapkan di beberapa kampus."(mdk/pan)