Hampir 1 Juta Tentara Muslim Ikut Perang Dunia I, Terbanyak dari Negara Ini
Perang Dunia Pertama berlangsung sejak 1914 hingga 1918. Meski perang itu terjadi di benua Eropa namun kontribusi sejumlah negara Asia da Afrika kerap kurang disoroti terutama karena kurangnya penelitian dari segi sejarah.
Perang Dunia Pertama berlangsung sejak 1914 hingga 1918. Meski perang itu terjadi di benua Eropa namun kontribusi sejumlah negara Asia da Afrika kerap kurang disoroti terutama karena kurangnya penelitian dari segi sejarah.
Islam Issa, pengajar Sastra Inggris di Universitas Birmingham, melakukan penelitian tentang peran warga muslim pada Perang Dunia Pertama. Hasil penelitiannya mengungkap ada sekitar 885.000 tentara muslim yang ikut berperang pada Perang Dunia Pertama. Angka ini dua kali lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.
Yang menarik dari penelitian ini adalah angka sebelumnya yang menyebut ada sekitar 400.000 tentara muslim yang ikut berperang pada Perang Dunia Pertama adalah sejumlah serdadu India, namun Issa menyiratkan ada tambahan tentara muslim dari negara Arab dan Afrika Utara yang juga terlibat dalam perang itu.
"Mesir saja mengerahkan sekitar 150.000 penunggang unta bagi pasukan Inggris dan sejumlah negara Afrika Utara juga membantu Prancis dengan sekitar 280.000 prajurit," kata Issa, seperti dilansir laman Realm of History.
Penelitian Issa didasarkan pada analisis sejumlah arsip sejarah serta penelitian dari benda-benda yang bersifat personal seperti buku harian dan surat-surat.
Tentara muslim, seperti juga sejawat mereka, berkiprah dalam berbagai kegiatan dalam perang, dari mulai tentara garis depan, membuat tenda, membawa barang logistik ke garis pertempuran. Diperkirakan ada 89.000 tentara muslim gugur dalam Perang Dunia Pertama.
Selain itu, menurut penelitian Issa, kontribusi India dalam Perang Dunia Pertama jauh lebih besar dari dugaan sebelumnya. Diperkirakan 1,5 juta tentara India berperang bersama tentara Inggris dan sebagai satu negara India juga memasok 3,7 juta ton komoditi dan 170.000 hewan yang dikirimkan untuk memasok keperluan perang. Jika dihitung dengan nilai mata uang maka India menggelontorkan sekitar USD 682 juta atau sekitar USD 28,5 miliar jika inflasi diperhitungkan.
Dan yang juga mengejutkan, menurut Issa angka itu hanya gambaran permukaan saja. Artinya angka sebenarnya jauh lebih besar dari itu.
(mdk/pan)