Gencatan senjata di Suriah berlangsung mulai 26 Februari
Rencana ini diumumkan AS-Rusia. Penghentian kontak senjata tak berlaku bagi ISIS dan Jabhat al-Nusra
Amerika Serikat dan Rusia mengumumkan rencana gencatan senjata di Suriah, tepat pada tengah malam 27 Februari. BBC melaporkan, Selasa (23/2), gencatan yang dimaksud adalah antara tentara pemberontak dan pemerintah Presiden Basyar al-Assad. AS dan Rusia selama setahun terakhir membantu sekutu masing-masing dalam perang saudara itu.
Dalam rencana AS-Rusia, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) serta Front Jabhat al-Nusra yang berafiliasi dengan Al Qaidah, tidak termasuk dalam gencatan ini karena status mereka sebagai kelompok teror yang mengganggu stabilitas kawasan dalam kriteria PBB.
Presiden Barack Obama telah menghubungi Presiden Vladimir Putin membahas rencana penghentian kontak senjata itu. Sesudah sambungan telepon tersebut, kedua negara melansir pernyataan bersama.
"Setiap pihak di Suriah telah menyatakan komitmen dan menerima syarat gencatan senjata," tulis pernyataan AS-Rusia.
Dengan begini, pada 26 Februari mendatang, Rusia dan tentara pemerintah Suriah tak lagi membom desa dan kota basis pemberontak. Demikian pula AS akan berhenti memasuk senjata kepada kelompok anti-Assad.
Assad umumkan siap gelar pemilu
Tak berapa lama setelah AS-Rusia mengumumkan siap memfasilitasi gencatan senjata, Presiden Basyar al-Assad ikut menyatakan siap menggelar pemilihan umum parlemen. Dia menargetkan pemilu digelar 13 April mendatang.
Presiden Suriah Basyar al-Assad dan istrinya Asma Assad pada pemungutan suara (c) telegraph.co.uk
Kemarin (22/2), Assad telah mengeluarkan dekrit tentang alokasi kursi setiap provinsi di Suriah. Terakhir kali ada pemilu di Suriah adalah pada 2012. Saat ini rezim Assad disokong Partai Baath yang menguasai parlemen. Belum jelas apakah kalangan oposisi tertarik mengikuti pemilu mendatang.
Namun, dengan semua upaya damai itu, rantai kekerasan di Suriah tak kunjung berhenti, kendati awal bulan ini mulai digelar upaya perdamaian antara pemberontak dan pemerintah. Pada Minggu (21/2) lalu, Kota Homs dibombardir oleh jet pemerintah, menewaskan 140 orang.
Perang saudara di Suriah bermula pada 2011. Pemerintahan Assad yang dikuasai faksi Syiah Alawite, menindas aksi unjuk rasa para pemeluk Sunni di wilayah utara dan selatan negara itu ketika muncul resesi ekonomi. Kekerasan dan penculikan aktivis oleh Rezim Assad memaksa warga sipil mempersenjatai diri lalu mengobarkan perang saudara.
Kawasan Suriah kemudian menjadi runyam, ketika militan ekstrem seperti Jabhat al-Nusra dan ISIS tanpa diduga ikut berperang. Sudah tidak jelas siapa melawan siapa, karena setiap pihak memiliki agenda masing-masing.
Dalam catatan pemantau HAM Suriah (SOHR), jumlah korban tewas karena peperangan selama empat tahun terakhir mencapai 250.124 orang. Di antara jumlah tersebut, sebanyak 74.426 adalah warga sipil. Di luar korban jiwa, empat juta jiwa penduduk kabur dari wilayah konflik, kebanyakan menuju Eropa.
(mdk/ard)