Gedung Putih: Vaksin Virus Corona Diperkirakan Tersedia Pada 2021-2022
Dia menambahkan, ilmuwan melihat ada kemungkinan penyakit karena virus corona menyerang dalam tiga siklus tahunan berturut-turut.
Vaksin virus corona diperkirakan akan tersedia sekitar 2021 sampai 2022 saat penyakit ini bisa muncul kembali. Hal ini disampaikan Koordinator Tanggap Virus Corona Gedung Putih, Deborah Birx kepada wartawan.
"Kita tahu kita akan punya vaksin yang paling mungkin pada musim 2021-2022 dan semoga kita punya obatnya pada musim gugur berikutnya," kata Birx saat pemaparan harian Gedung Putih kepada media, Senin, dikutip dari Sputnik News, Selasa (24/3).
Dia menambahkan, ilmuwan melihat ada kemungkinan penyakit karena virus corona menyerang dalam tiga siklus tahunan berturut-turut.
Birx mengatakan, ramalan menunjukkan bahwa 70 persen dari manusia mungkin terinfeksi didasarkan pada asumsi bahwa virus bisa menyebar tanpa halangan.
Menurut data Universitas Johms Hopkins, secara global jumlah kasus virus corona terkonfirmasi mencapai 378.000, dengan korban meninggal mencapai 16.500 orang di 180 negara dan wilayah di seluruh dunia.
Para ilmuwan di seluruh dunia kini tengah bekerja mencari vaksin dan obat untuk penyakit Covid-19 akibat infeksi virus corona.
Pekan lalu otoritas kedokteran di China mengatakan obat yang digunakan di Jepang untuk mengobati jenis baru influenza nampaknya efektif untuk mengobati pasien virus corona, seperti dilaporkan media Jepang.
Pejabat di Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China, Zhang Xinmin mengatakan, favipiravir, dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, telah menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien.
"Obat itu memiliki tingkat keamanan tinggi dan jelas efektif dalam pengobatan," jelas Zhang kepada wartawan pada Selasa, dikutip dari The Guardian, Rabu pekan lalu.
Pasien yang diberi obat itu di Shenzhen berubah negatif dari virus setelah rata-rata empat hari sejak dinyatakan positif, dibandingkan dengan rata-rata 11 hari untuk mereka yang tidak diberikan obat tersebut, kata stasiun televisi NHK.
(mdk/pan)