LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Fidget Spinner, mainan untuk melemahkan bocah Palestina

Hettinger sempat mematenkan Fidget Spinner. Namun mulanya tidak ada yang tertarik menjualnya.

2017-05-09 22:33:23
Palestina
Advertisement

Anda kenal mainan Fidget Spinner? Benda plastik mirip baling-baling dengan tiga sisi bundar dan tengah berisi bantalan peluru itu tengah naik daun. Banyak yang merasa memainkannya bisa melepas stres. Lainnya menyatakan baik buat melatih konsentrasi. Sisanya menyatakan tidak berguna dan cuma membuat orang tidak fokus.

Meski begitu, ternyata benda ini tidak begitu saja dibuat. Niat awalnya ternyata supaya mainan ini bisa melemahkan semangat juang bocah-bocah Palestina.

Dilansir dari surat kabar Haaretz, Selasa (9/5), otak di balik Fidget Spinner adalah seorang warga Amerika Serikat, Catherine Hettinger. Dalam sebuah wawancara, dia mengenang kembali alasan membuat mainan itu.

Ternyata, pada 1980-an, Hettinger bertandang ke Israel mengunjungi kakak perempuannya. Sial, ternyata saat itu sedang bergelora gerakan perlawanan terhadap Zionis oleh orang-orang Palestina, dikenal dengan istilah Intifada.

Hettinger menyaksikan bagaimana saban hari muda-mudi dan bocah-bocah Palestina bentrok dengan polisi dan tentara Israel. Orang-orang Palestina itu melawan bermodalkan batu. Dia lantas mendapat ide membuat benda yang bisa meredam para pemuda Palestina melempar batu.

"Awalnya saya mendesain benda seperti batu yang lunak, sehingga anak-anak bisa melemparnya. Memang mulanya itu untuk menyampaikan pesan perdamaian," kata Hettinger.

Lantas Hettinger kembali ke kampung halamannya di Orlando, Florida. Desain awal mainan itu dia ubah menjadi mirip baling-baling yang bisa berputar.

Hettinger lantas mematenkan benda itu pada 1997. Namun sayang tak ada yang tertarik menjualnya, termasuk pabrik mainan besar, Hasbro. Dia juga tidak punya uang buat memperbarui hak patennya sembilan tahun kemudian. Biaya ditetapkan sebesar USD 400.

Meski begitu, mainan karya Hettinger meledak sejak akhir tahun lalu. Semua orang gemar memainkannya. Mulai dari pekerja kantoran hingga bocah-bocah sekolah dasar.

Baca juga:
Hamas tegaskan perangi Zionis, bukan umat Yahudi
Meratapi warga di Jalur Gaza terancam hidup tanpa listrik
Radiohead diminta batalkan konser di Israel demi dukung Palestina
Trump umbar janji tuntaskan konflik Palestina-Israel
Ekspresi PM Israel buang dokumen kebijakan baru Hamas ke tong sampah
Ini sebab mengapa Timur Tengah selalu menjadi kawasan penuh konflik

Advertisement
(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.