Doktrin palsu kebebasan pers
Kasus Ferguson menjadi bukti masih ada kekuatan yang mengontrol kebebasan jurnalisme.
Amerika Serikat negara yang mengagung-agungkan kemerdekaan pers mereka tanpa batas. Namun faktanya mungkin tidak sebanding dengan propaganda itu. Kasus di Jalan Ferguson, Negara Bagian Missouri menjadi contoh nyata betapa kebebasan jurnalistik sebenarnya masih dikontrol.
Saat itu dua orang wartawan masing-masing dari the Huffington Post Ryan Reilly dan Wesley Lowery, jurnalis the Washington Post tengah bekerja dari restoran cepat saji McDonalds dekat tempat kejadian huru hara. Tanpa basa basi polisi menyergapnya di bawah senjata api berat dan mereka juga menyisir rumah makan itu. Meski sudah mengaku sebagai wartawan namun mereka tetap diseret.
Selang beberapa jam belum ada tanda-tanda Ryan dilepaskan. Dia beberapa kali meliput untuk Huffington Post saat di penjara Guantanamo. Menurut harian itu diwakili oleh redaktur Ryan Grim, aparat memperlakukan kondisi seperti di tengah perang. "Ini berefek pada kebebasan pers," ujar Grim. Dia belum mendapat konfirmasi apa pun soal penangkapan dua wartawan itu.
Ryan ditahan lantaran mengambil gambar aparat saat unjuk rasa di Ferguson. Laporan terakhir mereka telah dibebaskan tanpa ada permintaan maaf oleh pihak kepolisian lantaran salah tangkap. "Mereka berakting seperti militer," ujar Ryan.
Menurutnya dalam beberapa tahun terakhir banyak sekali kasus yang polisi melarang jurnalis mengambil gambar dan mereka tak segan menahan wartawan mana pun yang nekat memotret aparat. Padahal sah-sah saja memfoto mereka dalam kerja jurnalistik.
Sementara jurnalis stasiun televisi Al Jazeera Aaron Nerst hendak mewawancarai Umar Lee, seorang sopir taksi yang menjadi saksi dalam kejadian penembakan Michael Brown, remaja kulit hitam 18 tahun tak bersenjata diduga tewas oleh timah panas polisi kulit putih, diancam kepalanya akan dipenggal jika tidak menghentikan rekaman mereka.
"Mereka bisa mengancam kami sebab dilindungi oleh undang-undang dan senjata," ujar Nerst.
Tim Aljazeera lain bahkan dilempar gas air mata serta peluru karet. Sam Winslade, Ashar Quraishi, dan Maria Cichowski menyakini mereka menjadi target aparat kepolisian yang tidak suka mereka meliput kejadian itu. Saat gas air mata datang, mereka pindah namun diberondong peluru karet dan itu semua tanpa peringatan.
Kasus terbaru kekerasan pada wartawan di Ferguson oleh pihak polisi yakni tertangkapnya juru foto veteran dari situs Getty Images Scoot Olson. Lelaki itu mengatakan dia ditahan sebab mengambil gambar dari sudut lain jalan dan itu berseberangan dengan tempat sudah disediakan bagi wartawan hendak meliput, seperti dilansir stasiun televisi FOX (19/8).
(mdk/din)