Didampingi Istri, Najib Razak Ucap "Sumpah Laknat" Bantah Perintahkan Pembunuhan
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak mengucap "sumpah laknat" di masjid di Kuala Lumpur usai salat Jumat sebagai bantahan telah memerintahkan pembunuhan perempuan asal Mongolia, Altantuya Shaariibuu.
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak mengucap "sumpah laknat" di masjid di Kuala Lumpur usai salat Jumat sebagai bantahan telah memerintahkan pembunuhan perempuan asal Mongolia. Dugaan keterlibatan Najib muncul setelah mantan pengawalnya yang menjadi terpidana dalam kasus pembunuhan tersebut mengungkapkan dia melakukan aksinya atas perintah Najib yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Altantuya Shaariibuu ditembak mati dan tubuhnya diledakkan dengan bahan peledak militer pada 2006 lalu. Kematiannya dikaitkan dengan skandal suap dalam pembelian kapal selam Prancis tahun 2002, di mana Altantuya bekerja sebagai penerjemah.
Di hadapan sekitar seribu orang, mantan pemimpin 66 tahun itu mengucapkan sumpahnya sembari mengepalkan tangan ke udara.
"Saya berdiri dengan kebenaran, saya hanya takut pada Allah," ucap Najib, didampingi istrinya, seperti dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (21/12).
Rencana mengucapkan sumpah laknat ini sebelumnya disampaikan Najib melalui akun Facebooknya. Jika seorang Muslim melakukan sumpah laknat, dia harus menyampaikan kebenaran dan bersedia menerima kutukan jika berbohong.
Pihak berwenang Malaysia membuka kembali penyelidikan pembunuhan Altantuya tahun lalu setelah Najib lengser.
Pengakuan Mengejutkan
Pada Senin, Azilah Hadri, mantan polisi yang terpidana hukuman mati, membuat pengakuan mengejutkan bahwa dia melakukan pembunuhan atas perintah Najib untuk membunuh dan menghancurkan Altantuya, yang disebut sebagai mata-mata asing.
Dia mengaku Najib mencontohkan dengan gerakan 'gorok leher' ketika memerintahkannya untuk menembak mati Altantuya pada 2006 lalu.
Najib membantah tuduhan Azilah dan menyebutkan sebagai permainan Pakatan Harapan untuk membungkam dan menjatuhkannya.
Altantuya ditembak mati dan jasadnya diledakkan menggunakan bahan peledak militer C4 di Shah Alam. Altantuya disebut sebagai kekasih Abdul Razak Baginda, analis politik yang juga menjadi penasihat Najib dari 2000 sampai 2008.
Azilah dan anggota polisi lainnya, Sirul Azhar Umar, yang keduanya merupakan anggota elit Kepolisian Diraja Malaysia, Pasukan Aksi Khusus (UTK) dijatuhi hukuman mati pada 2009. Pengadilan Banding membatalkan keputusan Pengadilan Tinggi pada Agustus 2013, tetapi Pengadilan Federal kemudian mengembalikan vonis pada tahun 2015. Sirul melarikan diri ke Australia pada 2014.
Azilah mengajukan peninjauan kembali ke Pengadilan Federal supaya hukumannya dikaji kembali. Dia juga mengajukan upaya pengadilan ulang.
(mdk/pan)