Di tengah penjajahan, wanita Palestina sukses jadi pebalap mobil
Simak video aksi tim balap Speed Sisters asal Tepi Barat yang kini kondang ke seluruh dunia
Hidup sehari-hari cukup berat di Tepi Barat, Palestina. Penjajahan Israel membuat hidup tua-muda, pria-wanita, hingga anak-anak menderita. Bukan rahasia baru bila Otoritas Palestina di Ramallah mengelola pemerintahan berkat bantuan donor negara Islam sedunia.
Tapi bagi sebagian warga Palestina, meratapi nasib bukan pilihan. Contohnya adalah kelompok pembalap 'Speed Sisters' yang seluruh anggotanya adalah kaum hawa.
Betty Saadah (35), Noor Daoud (25), Mona Ennab (29), dan Marah Zahalka (23), anggota Speed Sisters aktif mengikuti lomba balap jenis drift di seantero Timur Tengah sejak lima tahun terakhir. Jaringan berita Seekar Networks melaporkan, Rabu (16/9), berkat balapan para wanita ini bisa melalangbuana ke banyak negara.
Dari rombongan wanita gagah perkasa itu, cuma Betty, warga Kota Betlehem, yang keluarganya terhitung kaya. Sisanya datang dari latar belakang menengah ke bawah, bahkan tak pernah berurusan dengan balapan sebelumnya.
Kisah hidup mereka kemudian difilmkan oleh Amber Fares, sutradara asal Ramallah. Digambarkan bahwa anggota Speed Sister justru menghadapi tantangan besar bukan dari ejekan rival pembalap lelaki, melainkan keterbatasan biaya.
Keluarga Zahalka, contohnya, harus banting tulang menjual tanah supaya anak mereka bisa terus berkarir sebagai pembalap. "Saya ingin memperlihatkan pada orang-orang sekilas sisi lain dari tempat ini. Palestina, sekaligus Timur Tengah secara keseluruhan," kata Fares.
Perlahan, Speed Sisters mempunyai basis penggemar di Timur Tengah, khususnya Yordania. Para wanita yang kecanduan adrenalin itu mendapat rasa hormat dari lelaki yang menggemari balap mobil.
"Awalnya kami dianggap seperti alien. Sekarang kami punya fans dan ada pihak-pihak yang bersedia mendanai tim balap ini," kata manajer Speed Sisters, Jayyusi.
Ini video singkat menunjukkan aksi Speed Sisters yang mengguncang Timur Tengah: