Kacau dan Mencekam, Detik-Detik Jatuhnya Pemerintahan Afghanistan ke Tangan Taliban
Sebelumnya para pengamat yakin Kabul tidak akan jatuh sampai ada perjanjian. Tapi pada 15 Agustus 2021, semuanya seketika berubah. Dalam beberapa jam, presiden dan sejumlah pejabatnya melarikan diri. Para tentara dan polisi Afghanistan yang tertinggal melepas seragamnya dan bersembunyi.
Taliban telah mengumumkan pemerintahan baru dari Kabul, 20 tahun setelah mereka tersingkir dari kekuasaan.
Bagi generasi yang tumbuh dengan pendidikan, investasi asing, dan harapan dalam sebuah masa depan demokrasi, membaca kalimat itu pasti merasa sulit percaya.
Jadi bagaimana pemerintahan sebelumnya jatuh dengan begitu cepat? Taliban berhasil menguasai kota besar pertama dan tiba di gerbang kota Kabul hanya dalam 10 hari.
Sebelumnya para pengamat yakin Kabul tidak akan jatuh sampai ada perjanjian. Tapi pada 15 Agustus 2021, semuanya seketika berubah. Dalam beberapa jam, presiden dan sejumlah pejabatnya melarikan diri. Para tentara dan polisi Afghanistan yang tertinggal melepas seragamnya dan bersembunyi.
Melalui beberapa wawancara dengan orang dalam yang ada di pemerintahan saat itu, BBC merangkum detik-detik jatuhnya pemerintahan Afghanistan ke tangan Taliban, seperti dilansir pada Rabu (8/9).
Sabtu, 14 Agustus
Ashraf Ghani, presiden Afghanistan saat itu khawatir tapi tidak panik, kata sumber penting kepada BBC. Rencana mengamankan ibu kota negara itu telah dirancang dan dibahas dengan kepala staf angkatan darat, Jenderal Haibatullah Alizai, dan petinggi militer Amerika Serikat di Afghanistan, Laksamana Peter Vasely. Rencana utama adalah negosiasi untuk mencegah Taliban semakin mendekat ke gerbang kota Kabul.
Sami Sadat, direncanakan menjadi kepala keamanan Kabul yang baru. Rencananya adalah bertempur jika diperlukan, tapi idealnya berusaha melakukan perundingan damai dengan Taliban. Jika perjanjian tercapai, maka pemerintah Kabul paling tidak ingin mengulur waktu untuk evakuasi.
Tapi bahkan ketika Jenderal Sadat bertemu timnya, Taliban sedang mengambil alih Mazar-e-Sharif, dan mulai menuju kota Jalalabad. Kedua kota ini jatuh ke tangan Taliban tanpa pertempuran.
Kabul menjadi kota terakhir yang belum ditaklukkan.
Minggu pagi, 15 Agustus
Penduduk Kabul mulai khawatir ketika muncul laporan pejuang Taliban telah tiba di gerbang kota. Kemudian antrean mulai mengular di bank-bank dan bandara. Tapi lingkaran dalam Presiden Ghani masih yakin Kabul tidak bisa semudah itu jatuh ke tangan Taliban.
Para pegawai di Arg, istana kepresidenan, datang untuk bekerja seperti biasa.
Keyakinan itu didukung oleh kesepakatan hari sebelumnya difasilitasi salah satu pembantu utama presiden, Salam Rahimi. Menurut sumber yang dekat dengan Ghani, Rahimi terlibat dalam komunikasi saluran belakang dengan Taliban, dan berhasil mengamankan kesepakatan bahwa kelompok itu akan menahan diri untuk tidak mengambil alih kota dengan paksa, dengan imbalan berbagi kekuasaan sementara. Ini akan memungkinkan evakuasi warga negara asing, dan mereka yang terancam. Ini juga akan mengulur waktu untuk negosiasi yang sudah berlangsung di Qatar untuk menengahi pemerintah persatuan.
Tim media Ghani mengunggah video di halaman Facebook resmi kepresidenan, meyakinkan warga Kabul terkait pengamanan kota, di mana video itu menunjukkan Ghani sedang membahas pengamanan kota dengan Menteri Dalam Negeri dan para pejabat keamanan.
Tapi Ghani gagal meyakinkan para menteri seniornya. Sumber-sumber BBC mengatakan presiden sulit menghubungi beberapa pejabat tinggi yang lain. Wakil presidennya, Amrullah Saleh, telah melarikan diri ke Lembah Panjshir, sementara Menteri Pertahanan, Bismillah Khan, tidak bisa dihubungi.
Sementara itu, sejumlah politikus tingkat tinggi Afghanistan menuju bandara untuk mendapatkan penerbangan komersil ke Islamabad. Kelompok politikus itu terdiri dari Ketua DPR, Mir Rahman Rahmani, dan mantan Wakil Presiden, Karim Khalili. Salah seorang anggota delegasi tersebut, Shakib Sharifi, seorang pejabat di Kementerian Pertanian, kemudian membantah laporan media bahwa perjalanan itu merupakan evakuasi.
“Tujuan kami untuk meyakinkan pemerintah Pakistan untuk memediasi dan mencegah pertumpahan darah di Afghanistan,” ujarnya.
Tapi Presiden Ghani tidak ingin mereka pergi.
“Dia takut kami akan membuat kesepakatan dengan bantuan Pakistan yang bisa menyingkirkannya dari kekuasan. Dia benar-benar menentang kami pergi,” jelasnya.
Sharifi menyaksikan suasana kepanikan di kota itu ketika dia dan delegasi lainnya menuju bandara.
“Kami mendengar Taliban berada di gerbang, tapi tidak berpikir mereka begitu cepat memasuki kota. Malam sebelumnya kami sangat gelisah, dan kami tidur dengan senjata kami di samping kami.”
Lalu lintas juga macet sehingga mantan Wakil Presiden Khalili yang berangkat terpisah dengan delegasi lainnya keluar dari kendarannya dan berjalan kaki 15 menit menuju bandara.
Setibanya di bandara, kelompok tersebut menerima pembaruan laporan setiap satu menit terkait posisi Taliban.
Di bandara suasana kacau. Para pejabat perbatasan dan personel keamanan bandara mulai menghilang, meninggalkan tempat kerja mereka, para calon penumpang tidak diperiksa. Orang-orang mulai memasuki landasan pesawat.
Pada akhirnya delegasi itu bisa masuk ke penerbangan Pakistan International Airlines. Tapi ATC memerintahkan pesawatnya tidak lepas landas, dan menunggu instruksi selanjutnya.
Minggu siang, 15 Agustus
Kembali ke istana presiden, situasinya juga memburuk. Ghani masih berusaha menghubungi para pejabat di kementerian pertahanan dan kementerian dalam negeri, tapi tidak terlalu berhasil.
Menurut salah seorang pejabat pemerintah kepada BBC, pemerintah seperti telah runtuh dan para pejabat terpecah menjadi kelompok-kelompok.
“Kami mengharapkan beberapa petunjuk dari istana. Tapi tidak ada,” kata pejabat tersebut.
Lingkaran sekeliling Ghani semakin kecil dan terisolasi. Satu-satunya yang membuat keputusan penting dengan Ghani adalah penasihat keamanan nasionalnya, Hamdullah Mohib, dan kepala stafnya, Fazel Fazly, kata beberapa sumber kepada BBC.
Sumber dari dalam istana mengungkapkan, sekitar siang hari, Mohib mulai mendesak dilakukan evakuasi. Satu jam sebelumnya, tembakan terdengar di luar istana. Ghani enggan kabur. Lantas Mohib mengatakan kepada Presiden Ghani nyawanya terancam.
“Mohib mengatakan kepada Ghani bahwa Taliban sedang di jalan dan mereka akan menangkap dan membunuhnya. Dia sangat khawatir,” kata satu orang dalam istana.
Ketidakpastian juga mulai melanda seluruh Kabul.
“Saya sedang di kantor, sekitar pukul 14.00, media sosial dipenuhi gambar pejuang Taliban di dalam kota. Rekan-rekan mulai mengumpulkan barang-barang mereka untuk dibawa pergi. Kami tidak berbicara satu sama lain. Ketika saya meninggalkan kantor, jalan-jalan ramai. Toko-toko ditutup. Saya mendengar tembakan,” kata salah seorang warga kepada BBC.
Sejumlah sumber mengatakan pengawal presiden menentang rencananya melarikan diri. Ketika tiga helikopter tiba di istana untuk menjemput Ghani, istri, dan ajudannya, ada teriakan dan saling dorong antara mereka yang naik ke helikopter dan ajudan yang tertinggal.
Saksi mata melaporkan tas-tas dilempar ke tanah ketika orang-orang menaiki helikopter. Beberapa laporan mengatakan tas itu berisi uang untuk membayar para ajudan, walaupun tidak mungkin untuk memverifikasi pengakuan ini. Ghani dalam pesan videonya yang disampaikan melalui Uni Emirat Arab telah membantah membawa serta uang negara dalam jumlah besar.
Sekitar pukul 15.30, Presiden Ghani dan ajudannya, termasuk Mohib dan Fazly, meninggalkan istana menggunakan helikopter.
Mereka terbang ke Termez, Uzbekistan, kemudian menuju UEA. Beberapa jam kemudian, dalam foto-foto yang menyebar di seluruh dunia, pejuang Taliban berada di meja kerja yang sama yang diduduki Ghani di istana presiden beberapa jam sebelumnya.
Sebuah buku di atas meja saat Ghani melakukan panggilan konferensi pada pagi harinya masih ada di sana - ditandai di halaman yang sama - tampaknya tak tersentuh. Tapi sekarang Taliban sedang memulai bab baru.
Di bandara, para pejabat pemerintah menunggu. Kabar Ghani melarikan diri belum diketahui. Seorang pejabat mengatakan setiap orang menanyakan keberadaan Ghani. Tapi tidak ada yang tahu dia ada di mana.
Di seberang bandara, yang menjadi pangkalan militer, helikopter Chinook dan pesawat militer AS tetap lepas landas.
Beberapa hari kemudian, Ghani muncul dalam siaran langsung Facebook dari UEA, di aman dia diizinkan tinggal atas alasan kemanusiaan.
Dia dikritik karena meninggalkan negaranya ketika dibutuhkan. Ghani membela diri, mengatakan meninggalkan Kabul bukan keputusannya melainkan keputusan tim keamanannya.
“Jika saya tetap tinggal, akan ada pertumpahan darah,” ujarnya.
Berubah selamanya
Di Provinsi Zabul, di perbatasan Pakistan, dilakukan negosiasi dipimpin komandan Taliban dan wakil gubernur Zabul, Inayatullah Hotak. Dibahas dua hal; bagaimana menjamin keamanan pasukan militer Afghanistan dan bagaimana pembagian senjata antara Taliban dan warga lokal.
Kesepakatan dicapai pada hari berikutnya, di mana para tetua sepakat menyerahkan pasukan militer Afghanistan dan senjata ke Taliban, yang menjami mereka jalur aman menuju ibu kota provinsi, Qalat. Para tentara menerima bayaran 5.000 Afghani atau sekitar Rp 785 ribu, satu senjata ringan untuk perlindungan setiap tentara, dan kendaraan yang cukup untuk evakuasi. Bersama-sama, ratusan anggota angkatan darat Afghanistan meninggalkan Shinkai pada 16 Juni menuju Qalat, di bawah pengawasan Taliban.
Sumber BBC mengatakan, satu demi satu, beberapa barak lokal di Zabul mencapai kesepakatan yang sama dengan jaminan jalur aman.
Beberapa hari kemudian, Kabul jatuh ke Taliban.
Bagi banyak orang di Afghanistan, Minggu 15 Agustus menandai titik balik dari kehidupan yang menjanjikan menjadi kehidupan yang tidak menjanjikan.
Seorang penduduk mengatakan, saat malam tiba, ada kesadaran bahwa segala sesuatunya telah berubah untuk selama-lamanya.
"Sekarang di luar gelap dan sunyi. Ini malam paling menyedihkan yang pernah ada. Kabul menahan napas."
(mdk/pan)