Dampak mengerikan Venezuela, negara kaya raya yang bangkrut
Kondisi Venezuela makin memprihatinkan. Masyarakat berbondong-bondong pindah ke luar negeri. Berikut kondisi warga Venezuela kini:
Kondisi Venezuela makin kritis. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Akibatnya, banyak masyarakat Venezuela memilih pindah ke negara lain, seperti Brasil, Kolombia, Ekuador dan Peru.
Dana Moneter Internasional atau The International Monetary Fund (IMF) memperkirakan inflasi di Venezuela bisa mencapai satu juta persen pada 2018. Berdasarkan studi yang dilakukan National Assembly, harga telah meningkat dua kali lipat setiap hari dalam rata-rata 26 hari.
Berikut kondisi masyarakat Venezuela ketika menghadapi krisis yang menimpa mereka:
Segepok uang buat beli ayam
Jatuhnya nilai mata uang Venezuela berimbas pada harga pokok di sana. Salah satunya harga ayam.
Warga harus membawa segepok uang demi bisa membeli daging ayam. Satu ekor daging ayam seberat sekitar 2,4 kilogram dijual dengan harga 14 juta bolivar, atau jika dikonversikan ke dalam rupiah, setara dengan Rp 32.000 per ekor.
Warga bingung dengan mata uang baru
Presiden Nicolas Maduro Moros mengeluarkan uang baru yang disebut Bolivar Soberano (Bolivar Sovereign atau Bolivar Berdaulat). Dalam uang baru itu, angka nol dikurangi lima. Jadi, 1.000.000 bolivar hanya menjadi 10 bolivar di uang baru. Uang lama dan uang baru masih sama-sama beredar sampai waktu yang belum ditentukan.
Strategi pemerintahannya untuk menahan laju inflasi memberikan masalah baru. Rakyat Venezuela mengaku kebingungan seiring kebijakan pengurangan lima nol dalam nilai mata uang (redenominasi) bolivar.
Sebagai catatan, dalam nilai uang lama, harga barang di Venezuela bisa mencapai jutaan bolivar. Ambil contoh sabun yang mencapai 3,5 juta bolivar atau setara Rp 205 ribu. Atau popok seharga 8 juta bolivar atau Rp 470 ribu (1 bolivar = Rp 0,059).
Rela makan daging yang tak layak
Di Maracaibo, kota kaya minyak yang dijuluki 'Saudi Arabia of Venezuela', warga antre membeli daging yang nyaris tak layak dikonsumsi manusia. Penjual biasanya mencampur daging kehitaman itu dengan yang lebih segar. Pada situasi normal, daging tersebut biasanya jadi pakan anjing.
"Baunya agak sedikit anyir. Tapi mendingan jika dicuci dengan lemon dan sedikit cuka vinegar," kata Yeudis Luna, ayah tiga anak yang sibuk memotong-motong daging berwarna kehitaman di kios miliknya.
Sejumlah pelanggan mengaku, anggota keluarganya sakit usai mengonsumsi daging yang dijual murah tersebut. Namun, apa daya, mereka tak punya pilihan.
Toko-toko tutup karena kurang pasokan barang
Krisis ekonomi di Venezuela makin memprihatinkan. Akibatnya, pasokan barang untuk memenuhi kebutuhan makin tipis.
Toko-toko tutup dan pasar tradisional semakin sepi. Ini memperlihatkan matinya aktivitas jual beli di sana. Beberapa toko bahkan hanya menyisakan sampah-sampah.