Ciuman Bibir Sepasang Manusia Pertama Kali Terjadi 4500 Tahun Lalu, Di Sini Lokasinya
Temuan terbaru ini bertentangan dengan teori sebelumnya bahwa bukti ciuman bibir manusia paling awal berasal dari daerah tertentu di Asia Selatan 3500 tahun lalu.
Catatan ciuman paling awal manusia terjadi sekitar 4.500 tahun yang lalu di Timur Tengah kuno – 1.000 tahun lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya. Demikian menurut para peneliti di Universitas Copenhagen di Denmark.
Menurut para ilmuwan, ciuman dipraktikkan dalam masyarakat Mesopotamia paling awal. Dalam artikel para ilmuwan yang diterbitkan jurnal Science, mereka mengatakan temuan tersebut mengungkapkan bahwa bericiuman itu hal yang umum dalam banyak kebudayaan dan tidak berasal dari daerah atau kawasan tertentu.
Menurut mereka, ini bertentangan dengan teori sebelumnya bahwa bukti ciuman bibir manusia paling awal berasal dari daerah tertentu di Asia Selatan 3500 tahun lalu.
"Dalam Mesopotamia kuno, yang nama kebudayaan manusia awal yang berada di antara sungai Eufrat dan Tigris di Irak dan Suriah hari ini, orang-orang menulis dalam teks cuneiform (aksara paku) di atas lempengan tanah liat. Ribuan lempengan tanah liat ini masih ada sampai hari ini, dan mereka berisi contoh jelas bahwa ciuman dianggap sebagai bagian keintiman romantis di zaman kuno, seperti ciuman bisa menjadi bagian persahabatan dan hubungan anggota keluarga," jelas ahli sejarah obat-obatan di Mesopotamia dari Universitas Copenhagen Denmark, Dr Troels Pank Arboll.
"Oleh karena itu, ciuman seharusnya tidak dianggap sebagai adat istiadat yang berasal secara eksklusif dari sebuah kawasan tunggal dan menyebar dari sana tapi tampaknya dipraktikkan dalam berbagai kebudayaan kuno selama beberapa milenium," lanjutnya, dilansir Arkeonews, Jumat (19/5).
Penelitian pada simpanse - kerabat terdekat manusia - menunjukkan mereka juga berciuman.
Para ilmuwan mengatakan, ini menandakan praktik ciuman merupakan perilaku fundamental manusia dan menjelaskan mengapa itu terjadi pada lintas kebudayaan.
Berciuman, lanjut para ilmuwan, kemungkinan juga tidak sengaja berperan dalam penyebaran virus seperti herpes simplex virus 1 (HSV-1) yang menyebabkan herpes mulut.
"Ada sekumpulan besar teks medis dari Mesopotamia, beberapa di antaranya menyebutkan penyakit dengan gejala yang mengingatkan pada virus herpes simplex 1," kata Dr Arboll.
"Namun menarik untuk diperhatikan beberapa persamaan antara penyakit yang dikenal sebagai buʾshanu dalam teks medis kuno dari Mesopotamia dan gejala yang disebabkan oleh infeksi herpes simpleks," lanjutnya.
"Penyakit bu'shanu terutama terletak di dalam atau di sekitar mulut dan tenggorokan, dan gejalanya termasuk gelembung di dalam atau di sekitar mulut, yang merupakan salah satu tanda dominan infeksi herpes."
Studi terbaru menunjukkan bahwa virus modern yang menyebar melalui ciuman, seperti HSV-1, virus Epstein-Barr, yang menyebabkan demam kelenjar, dan parvovirus manusia B19, yang menyebabkan ruam merah cerah di pipi pada anak-anak, ada di zaman kuno.
"Jika praktik ciuman menyebar luas dan mapan dalam berbagai masyarakat kuno, efek berciuman dalam hal penularan patogen kemungkinan besar kurang lebih konstan," jelas Dr Sophie Lund Rasmussen dari Universitas Oxford.
Arbøll dan Rasmussen menyimpulkan bahwa temuan masa depan dari penelitian DNA purba akan mendapat manfaat dari pendekatan interdisipliner, karena mereka pasti akan mengarah pada diskusi tentang perkembangan sejarah yang kompleks dan interaksi sosial, seperti berciuman sebagai pendorong penularan penyakit dini.
(mdk/pan)