China Uji Coba Mesin Pemindai Tubuh yang Bisa Tembus 30 Lapisan Baju
Pemindai tubuh dikembangkan menggunakan teknologi radar luar angkasa diuji coba di China dan memproduksi gambar jernih yang bisa menembus berlapis-lapis pakaian
Pemindai tubuh dikembangkan menggunakan teknologi radar luar angkasa diuji coba di China dan memproduksi gambar jernih yang bisa menembus berlapis-lapis pakaian, menurut para ilmuwan.
Resolusi ultra tingginya bisa membantu mengidentifikasi hal-hal yang ditutupi dengan akurasi yang lebih baik di titik pemeriksaan keamanan, menurut para peneliti.
Uji coba teknologi itu menyatakan, jika digunakan dekat dengan seseorang, alat itu bisa melihat cap pakaian dalam mereka bahkan walaupun mereka memakai mantel.
Dikutip dari laman ABS CBN News, Senin (17/1), sebuah tim yang dipimpin Profesor Liu Jinsong di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan, China tengah meletakkan selembar kertas yang bertuliskan huruf "S" seukuran jempol di bawah lima jenis kain, yang dibuat mulai dari bahan alami dan sintetis.
Mesin pemindai tersebut menampilkan citra atau gambar huruf "S" yang sangat jelas sebening kristal dari semua kain tersebut. Hasilnya kabur ketika para peneliti menambah jumlah lapisan, tetapi tetap dapat diidentifikasi sampai 30 lapisan.
Dengan resolusi tingkat milimeter, pemindai dapat “dengan mudah mendeteksi barang terlarang seperti senjata yang disembunyikan di bawah pakaian”, kata tim Liu dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada Senin di jurnal peer-review domestik Optik dan Teknologi Optoelektronik.
Beberapa pemindai tubuh beresolusi tinggi telah digunakan di bandara dan pos pemeriksaan perbatasan China, menurut media pemerintah.
Seorang petugas keamanan di Bandara Internasional Ibu Kota Beijing mengatakan kepada Beijing Daily pada September, perangkat yang dikembangkan di dalam negeri yang sekarang digunakan menghasilkan gambar yang lebih detail daripada yang pernah dilihat staf.
Mereka menggunakan sistem deteksi yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan untuk memperingatkan mereka terhadap objek apa pun yang tersembunyi di bawah pakaian.
Mesin pemindai Liu berukuran sebesar cermin rias dan menggunakan 32 antena kecil.
“Untuk radar tradisional, semakin tinggi resolusinya, semakin besar antenanya. Ini tidak praktis dalam beberapa situasi," jelas Liu dan rekan-rekannya di jurnal tersebut.
Banyak platform militer modern, termasuk satelit, jet tempur dan kapal perang, telah menggunakan teknologi yang dikenal sebagai aperture sintetis untuk mengurangi ukuran antena mereka, dengan menggabungkan sinyal antena yang lebih kecil untuk membuat gambar dengan resolusi yang lebih tinggi.
Sebuah satelit yang dilengkapi dengan radar aperture sintetis terbaru dapat melihat batu bata di trotoar pada malam hari atau dalam cuaca buruk.
Liu dan rekan mengatakan mereka telah memodifikasi teknologi yang ada tanpa membahayakan tubuh manusia.
Gambar ultra-tajam yang dihasilkan, bagaimanapun, bergantung pada seseorang yang berdiri di dekat radar, dan tidak jelas apakah peralatan itu akan diuji coba di bandara. Liu tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentarnya.
Baca juga:
Impor Indonesia Capai Rp305 Triliun di 2021, Paling Banyak dari China
Perayaan Imlek di China Dibayangi Omicron
Filipina Beli Persenjataan Sistem Rudal dari India Senilai USD 375 juta
China Temukan Kasus Omicron pada Pasien yang Sudah Divaksin Booster
Melihat Latihan Keras Calon Pasukan Elit Marinir Taiwan
Massa Aliansi Mahasiswa Islam Demo Kedutaan Besar China Terkait Uighur