China Serukan Perang Iran Dihentikan, Desak Semua Pihak Berdialog
Kementeriann Luar Negeri China menekankan perang Iran seharusnya tidak pernah terjadi sejak awal dan tidak ada gunanya melanjutkan perang.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan tidak ada manfaatnya melanjutkan perang melawan Iran, di tengah kunjungan Presiden AS Donald Trump yang disambut Presiden China Xi Jinping di Beijing, Jumat.
"Tidak ada gunanya melanjutkan konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi sejak awal," kata juru bicara tersebut saat menjawab pertanyaan apakah Trump dan Xi membahas soal Iran dan bagaimana posisi Beijing terkait perang tersebut.
Juru bicara tersebut menegaskan China mengusulkan agar pihak-pihak terlibat untuk mencari jalan keluar secepat mungkin guna menyelesaikan situasi yang menjadi kepentingan, bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga bagi negara-negara kawasan dan seluruh dunia.
Membuka Kemabli Jalur Pelayaran
Setelah pintu dialog terbuka, pintu itu tidak seharusnya ditutup kembali. Dia juga mendesak upaya menjaga momentum deeskalasi dan mendorong penyelesaian politik, serta dialog dan konsultasi untuk mencapai kesepakatan terkait isu nuklir Iran dan persoalan lainnya.
Juru bicara Kemlu China itu juga menekankan pentingnya membuka kembali jalur pelayaran sesegera mungkin demi menjawab seruan komunitas internasional dan bersama-sama menjaga rantai pasok global tetap stabil dan tidak terhambat.
"Penting untuk segera mencapai gencatan senjata yang menyeluruh dan berkelanjutan, mengembalikan perdamaian dan stabilitas ke Timur Tengah serta kawasan Teluk secepat mungkin, dan meletakkan dasar untuk pembangunan arsitektur keamanan kawasan yang berkelanjutan," ujar juru bicara Kemlu China itu.
Gencatan Senjata Masih Berlaku
Sementara itu, pada Kamis (14/5), Trump mengatakan dalam wawancara dengan FOX News bahwa Xi ingin melihat tercapainya sebuah kesepakatan.
"Dia (Xi Jinping) berkata, Jika saya bisa membantu, saya ingin membantu. Siapa pun yang membeli minyak sebanyak itu jelas memiliki hubungan tertentu, tetapi dia ingin melihat Selat Hormuz terbuka," kata Trump.
Lawatan Trump ke China terjadi di tengah konflik Timur Tengah yang sedang berlanjut, dipicu setelah pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran lalu membalas dengan menyerang Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk serta menutup Selat Hormuz. Saat ini, gencatan senjata tanpa batas waktu sedang diberlakukan.