China Kirim Tim Anti-Korupsi Selidiki Kematian Dokter Pembongkar Wabah Corona
Komisi Pengawas Nasional dikenal sebagai lembaga pengawas kedisiplinan yang paling ditakuti.
Badan anti-korupsi China, Komisi Pengawas Nasional hari ini mengatakan mereka mengirimkan tim ke Wuhan untuk menyelidiki kasus kematian dokter Li Wenliang, orang yang paling awal memperingatkan bahaya wabah corona. Kabari itu disampaikan menyusul luasnya sorotan publik atas kematian dokter Li Wenliang.
Komisi Pengawas Nasional dikenal sebagai lembaga pengawas kedisiplinan yang paling ditakuti.
Li Wenliang, dokter yang pertama kali memberikan peringatan tentang bahaya virus Corona meninggal dunia pada Jumat (7/2) pukul 02.58 waktu setempat. Li meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RS Kota Wuhan karena terinfeksi virus corona.
Li diberi perawatan darurat dengan ECMO (oksigenasi membran ekstra-korporeal) setelah jantungnya berhenti berdetak sekitar pukul 21.30 Kamis malam.
Li termasuk di antara delapan warga Wuhan yang ditegur oleh polisi setempat pada awal Januari karena menyebarkan desas-desus tentang wabah virus corona baru.
Kematiannya disambut dengan kesedihan serta kemarahan yang jarang terjadi di dunia maya. Pengguna Weibo telah membanjiri jejaring sosial itu dengan seruan untuk pertanggungjawaban atas kebebasan berbicara yang lebih besar, dan permintaan maaf dari pemerintah Wuhan.
Li Dituduh Menyebarkan Isu
Li dituduh menyebarkan isu oleh polisi Wuhan. Dia adalah salah satu dari beberapa petugas medis yang menjadi sasaran polisi karena berusaha untuk mengungkap virus mematikan ini di pekan-pekan awal sebelum terjadinya wabah.
Tanggal 3 Januari 2020, Li dipanggil ke kantor polisi setempat dan ditegur karena menyebarkan desas-desus yang sangat mengganggu ketertiban sosial atas pesan yang dia kirimkan dalam grup obrolan.
Li sempat mengklarifikasi pernyataannya dalam pesan berikutnya yang menyatakan bahwa virus itu sebenarnya adalah tipe virus corona yang berbeda. Sangat disayangkan, tangkapan layar dari pesan pertama Li sudah menyebar di dunia maya.
Li harus menandatangani pernyataan untuk mengakui kesalahan dan berjanji untuk tidak melakukan tindakan melanggar hukum lebih lanjut.
Dia takut akan ditahan. "Keluarga saya akan khawatir tentang saya, jika saya kehilangan kebebasan saya selama beberapa hari," katanya kepada CNN melalui pesan teks di WeChat. Li terdengar batuk terlalu banyak dan napasnya tidak teratur untuk berbicara melalui telepon.
Dinyatakan Positif Terinfeksi Corona
Pada 10 Januari, setelah tanpa sadar merawat pasien dengan virus corona di Wuhan, Li mulai batuk dan demam pada hari berikutnya.
Li kemudian dirawat di rumah sakit pada 12 Januari. Pada hari-hari berikutnya, kondisi Li semakin memburuk. Saking parahnya Li dirawat di unit perawatan intensif, dan diberi dukungan oksigen.
Pada 1 Februari, Li dinyatakan positif mengidap virus corona.
Diagnosisnya telah memicu kemarahan di seluruh China, di mana serangan balik terhadap upaya negara menutupi penyakit tersebut dan penundaan dalam memperingatkan lebih awal kepada publik mengenai virus mematikan itu.
Li mengatakan bakal ikut berjuang membantu warga yang terinfeksi virus corona untuk sembuh. "ketika virus korona terus menyebar, saya tidak ingin pergi. Saya akan bekerja di garis depan ketika saya pulih," ujar Li.
Reporter Magang : Roy Ridho
(mdk/pan)