China Gunakan Tiruan Kapal Induk AS sebagai Target dalam Uji Coba Senjata
Militer China menggunakan tiruan kapal induk AS di tempat uji coba senjata di gurun barat yang terpencil, seperti ditunjukkan citra satelit baru.
Militer China menggunakan tiruan kapal induk AS di tempat uji coba senjata di gurun barat yang terpencil, seperti ditunjukkan citra satelit baru. Gambar satelit itu menunjukkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) fokus untuk menetralisir alat utama kekuatan AS tersebut.
Citra satelit menggambarkan target dalam bentuk kapal induk dan dua kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke di fasilitas uji coba di gurun Taklamakan di Xinjiang, seperti dilaporkan situs berita United States Naval Institute.
Kedua jenis kapal tersebut dikerahkan oleh Armada Ketujuh AS, yang berpatroli di Pasifik Barat termasuk perairan di sekitar Taiwan.
Gambar-gambar itu diambil pada Oktober oleh Maxar Technologies, sebuah perusahaan AS dengan lebih dari 80 satelit buatan perusahaan di orbit.
Maxar menyampaikan dalam pernyataannya yang dikirim ke Bloomberg pada Senin (8/11), fasilitas itu juga memiliki dua target persegi panjang sekitar 75 meter yang dipasang di rel.
Situs itu tergambar jelas di satelit, menandakan Beijing sedang mencoba menunjukkan kepada Washington apa yang bisa dilakukan pasukan misilnya. Demikian dilansir The Straits Times, Senin (8/11).
Pada Agustus 2020, militer China melakukan uji coba peluncuran terkoordinasi rudal DF-21D ke Laut China Selatan, sebuah tindakan yang disebut mantan kepala Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Phil Davidson merupakan "pesan yang terang benderang”, seperti disampaikan kepada panel Senat.
DF-21D adalah pusat strategi China untuk menghalangi aksi militer di lepas pantai timurnya dengan mengancam akan menghancurkan sumber utama proyeksi kekuatan AS di kawasan itu, kelompok tempur kapal induknya.
Kepala intelijen angkatan laut saat itu, Wakil Laksamana Jack Dorsett, mengatakan kepada wartawan pada Januari 2011, Pentagon telah meremehkan kecepatan di mana China mengembangkan dan mengerahkan DF-21D.
Hubungan China-AS secara diam-diam membaik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi kedua negara berdebat soal Taiwan dan kekhawatiran meningkat di Washington terkait persenjataan nuklir Beijing.
Pentagon telah menyuarakan keprihatinan bahwa China memperluas kemampuan senjata nuklirnya lebih cepat daripada yang diyakini sebelumnya.
Banyak pihak di lembaga militer AS juga mengkhawatirkan investasi China dalam teknologi rudal canggih. Baru-baru ini, perwira militer berpangkat tinggi menyebut uji sistem senjata hipersonik China yang dilaporkan "sangat mengkhawatirkan".
(mdk/pan)