Cerita menyedihkan wartawan Jepang usai tiga tahun disandera militan Suriah
Yasuda mengungkapkan bahwa saat disandera para militan itu memberlakukan larangan-larangan tidak masuk akal yang membuat dirinya semakin tersiksa, bahkan hampir mati.
Jumpei Yasuda tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali menghirup udara bebas setelah tiga tahun berada dalam cengkraman kelompok militan di Suriah. Selama dalam penawanan, wartawan asal Jepang itu mengalami masa-masa paling menyiksa selama hidupnya.
Yasuda mengungkapkan bahwa saat disandera para militan itu memberlakukan larangan-larangan tidak masuk akal yang membuat dirinya semakin tersiksa, bahkan hampir mati.
"Saya baru merasakan apa yang disebut dengan siksaan fisik dan psikologis bagai neraka," katanya di hadapan para wartawan, dikutip dari laman Reuters, Jumat (26/10).
Dikurung selama delapan bulan di sebuah ruangan 1,5 x 1 meter oleh kelompok militan, Yasuda tidak diizinkan untuk mandi, mencuci pakaian, atau membuat suara dan gerakan apapun yang menimbulkan kebisingan.
"Karena saya tidak bisa mencuci rambut, kepala saya gatal. Tetapi ketika saya menggaruknya, itu akan menimbulkan suara. Menghirup napas, meremas buku-buku jari, atau bergerak ketika tidur, semuanya dilarang," ungkapnya.
Penjagaan terhadapnya semakin ketat setelah dia dituding menguping sambil menimbulkan suara saat dia sedang meregangkan tubuhnya. Bahkan pada satu titik, dia tidak makan selama 20 hari untuk menghindari melakukan gerakan agar tidak menimbulkan kebisingan.
"Tubuh saya tinggal kulit dan tulang, saya merasa mual. Jika lebih lama lagi, saya mungkin akan mati. Tetapi akhirnya saya dipindahkan ke tempat berbeda," paparnya.
"Mereka tidak membawakan saya makanan. Atau jika mereka memberi makan, mereka akan memberikan makanan kaleng tanpa pembukanya," tambahnya.
Yasuda mengaku dia ditangkap oleh kelompok militan karena dituduh sebagai mata-mata. Setiap hari, penjaga tahanan selalu mengatakan bahwa dia akan dibebaskan meskipun kenyataannya tidak.
Namun kemudian, hari pembebasan itu tiba. Seminggu sebelum dibebaskan, dia dipindahkan kembali ke ruang sempit di mana dia menjalani hari-hari terburuknya selama delapan bulan. Setelah itu, dia dibawa ke sebuah sel yang terlihat seperti rumah biasa. Keesokan harinya, dia dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa ke perbatasan Turki.
Setelah dibebaskan, Yasuda sempat diwawancarai wartawan. Namun dia tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut karena harus menunggu sampai kesehatannya kembali pulih setelah beristirahat. Dia juga diharuskan menjalani pemeriksaan medis.
"Saya senang bisa kembali ke Jepang. Pada saat yang sama, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang harus saya lakukan," akunya.
Sementara itu, pemerintah Jepang mengucapkan terima kasih kepada Qatar dan Turki atas kerja sama mereka dalam membebaskan Yasuda. Jepang juga membantah membayar uang tebusan untuk pembebasan Yasuda.
Baca juga:
Momen kepulangan jurnalis Jepang yang disandera ekstremis di Suriah
Tiga tahun disandera kelompok militan di Suriah, wartawan Jepang akhirnya dibebaskan
Geser Jepang, Spanyol tempati peringkat teratas angka harapan hidup dunia
Indahnya hamparan bunga di Hitachi Seaside Park Jepang
Saat robot-robot unjuk kecanggihan dan kebolehan di Tokyo