Bond Girl, harus bisa menghidupkan karakter glamor dan rumit
Ibarat sayur tanpa garam. Kehadiran perempuan menjadi keharusan dalam tiap cerita James Bond.
Tokoh rekaan James Bond masih menarik minat orang sampai hari ini meski sang pencetus, Ian Fleming, sudah wafat 46 tahun lalu. Selain bumbu drama dan aksi dalam novel serta filmnya, kehadiran perempuan tidak bisa dipisahkan dari Bond.
Hampir semua novel dan cerita pendek garapan Ian Fleming selalu menghadirkan tokoh wanita. Biasanya disebut sebagai Bond Girl. Tidak ada aturan khusus tentang apa peran kaum hawa itu. Dia bisa menjadi kawan atau lawan, seperti dilansir dari situs www.wikipedia.org, Sabtu (7/7).
Peran Bond Girl menjadi penting saat karya novel itu diangkat ke layar lebar. Karena rata-rata pemerannya cantik, mereka berfungsi menjadi magnet peminat orang buat menonton film itu. Tetapi tidak sembarang perempuan didaulat buat beradu peran dengan bintang utama Bond. Mereka yang terpilih harus bisa memerankan benang merah karakter Bond Girl, yakni glamor tetapi rumit, sulit dipahami gerak-geriknya.
Lebih lanjut Ian Fleming mengatakan karakter Bond Girl harus memenuhi kriteria, yakni lentur dan ringan, cantik tapi polos, suka tantangan, tangguh, rentan terhadap bahaya, tegar, tapi kisah hidupnya harus tragis seperti tewas atau hal lainnya.
Ursula Andress, aktris asal Swiss dan bom seks pada era 1960an, tercatat sebagai perempuan pertama pemeran Girl Bond dalam film adaptasi novel Ian Fleming, Dr. No, pada 1962. Waktu itu dia memerankan karakter Honey Ryder.
Tradisi itu terus dijaga turun-temurun hingga saat ini. Total ada 89 aktris berperan mendampingi tokoh James Bond dalam film layar lebar. Tanpa Bond Girl, serasa sayur tanpa garam.