LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. DUNIA

Belajar dari Hong Kong: Memilih Vaksin Sinovac karena Pertimbangan Politik

Pemerintah Hong Kong mempertimbangkan faktor keilmuan, logistik, bisnis, dan bahkan politik sebelum memilih perusahaan farmasi yang akan memasok jutaan vaksin Covid-19 bagi warganya

2020-12-14 08:01:55
Vaksin Sinovac
Advertisement

Pemerintah Hong Kong mempertimbangkan faktor keilmuan, logistik, bisnis, dan bahkan politik sebelum memilih perusahaan farmasi yang akan memasok jutaan vaksin Covid-19 bagi warganya. Demikian menurut informasi dari ahli kesehatan dan sumber dalam di pemerintahan.

Namun salah satu dokter terkemuka Hong Kong mempertanyakan mengapa perusahaan China Sinovac Biotech pada akhirnya yang dipilih meski perusahaan itu belum mengumumkan hasil uji coba tahap ketiga untuk kandidat vaksinnya.

Dalam wawancara dengan South China Morning Post, profesor Gabriel Leung dan David Hui Shu-cheong menjelaskan soal keputusan akhir di balik pengumuman pemerintah Jumat lalu yang akhirnya sepakat untuk membeli masing-masing 7,5 juta dosis vaksin dari Sinovac dan Pfizer-BioNTech.

Advertisement

Sinovac akan mengirimkan satu juta dosis bulan depan dan Pfizer akan mendistribusikan satu juta dosis lagi melalui Fosun Pharma, perusahaan China, pada kuartal pertama tahun depan. Kesepakatan ketiga dengan AstraZeneca juga melibatkan 7,5 juta dosis dalam skema kerja sama.

Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam Cheung Yuet-ngor menyebut perkembangan ini sebagai "terobosan" dan mengatakan pemerintahannya siap membeli 30 juta vaksin dosis lagi untuk memastikan 7,5 juta penduduk mendapat dua kali suntikan jika mereka mau dan ini sifatnya gratis serta sukarela.

Advertisement

Kubu pro-Beijing

Namun muncul kekhawatiran soal apakah pemerintah sudah tepat mengambil keputusan dengan memilih tiga vaksin dari 13 vaksin yang sudah merampungkan tahap uji coba ketiga mereka.

Dr Arisina Ma Chung-yee, presiden Asosiasi Dokter Umum, mempertanyakan apakah ada pertimbangan politik di balik pemilihan vaksin buatan Sinovac Biotech atau Fosun Pharma, yang keduanya adalah perusahaan China.

"Hanya sedikit informasi yang kita ketahui tentang Sinovac Biotech dan mereka belum mempublikasikan data uji coba vaksin tahap ketiga," kata Ma, seperti dilansir laman South China Morning Post, Minggu (13/12).

"Pemerintah harusnya menjelaskan dengan gamblang mengapa memilih Sinovac untuk membuat warga Hong Kong yakin ingin divaksin," lanjut Ma.

Sumber orang dalam di pemerintahan yang mengetahui proses pemilihan mengatakan kepada SCMP, Sinovac dipilih setidaknya karena pemerintah Hong Kong ingin mengantisipasi potensi serangan balik dari kubu pro-Beijing jika mereka tidak memilih perusahaan China. Sumber itu mengatakan sekelompok pendukung Beijing kian vokal menyuarakan campur tangan China dalam strategi Hong Kong menghadapi pandemi.

Keputusan yang benar

Namun profesor Gabriel Leung, dekan Fakultas Kedokteran di Universitas Hong Kong bersama sejumlah ahli lainnya memberi masukan kepada pemerintah soal pemilihan vaksin. Mereka mengatakan pemerintah sudah mengambil keputusan yang benar berdasarkan keilmuan dan faktor komersil.

Leung mengatakan Sinovac berhak menjadi vaksin terpilih karena data uji coba tahap pertama dan kedua sudah dikaji dan dipublikasikan di jurnal terpercaya The Lancet Infectious Diseases.

"Hanya karena Sinovac belum mempublikasikan data uji coba tahap ketiga bukan berarti datanya akan jelek," kata Leung.

Pfizer-BioNTech juga menjadi vaksin yang terpilih, ujar Leung. Vaksin buatan perusahaan Amerika Serikat bekerja sama dengan Jerman ini menuai hasil terbaik dalam uji coba tahap ketiga dengan dua suntikan berjarak 21 hari dan bisa memberikan hasil perlindungan hingga 95 persen terhadap Covid-19.

Vaksin Pfizer kini sudah diketahui aman dan efektif dan sudah mendapat persetujuan di Inggris, Kanada, Bahrain, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Inggris menjadi negara pertama yang menggelar vaksinasi massal warganya dengan vaksin Pfizer.

Kesulitan teknis sudah diatasi

Menurut Leung, ada faktor komersil dan bahkan geopolitik juga yang terlibat dalam pemilihan vaksin ini.

"Sejumlah perusahaan bisa jadi tidak mau menjualnya kepada Anda, atau hanya mau menjual sedikit dan sejumlah negara mungkin juga melarang ekspor Vaksin Covid-19 buatan mereka."

Rekan Leung, Profesor David Hui Shu-cheong dari UNiversitas China juga menyebut keputusan pemerintah Hong Kong berdasarkan keilmuan dan alasan logistik.

Pemerintah sudah benar dengan mengikuti saran para ahli untuk membeli vaksin yang dibuat dengan berbagai macam platform teknologi. Kelebihan vaksin Sinovac adalah vaksin ini dibuat dengan menyuntikkan virus yang sudah mati ke dalam tubuh untuk memicu imunitas, metode konvensional yang sudah digunakan untuk penanganan pasien hepatitis A, influenza, polio dan rabies.

Namun efek samping dari teknologi ini berupa sakit kepala dan muncul efek alergi.

Pfizer-BioNTech, sementara itu, memakai vaksin tipe baru yang menggunakan bagian kode genetik atau mRNA nucleic acid dari virus itu untuk membuat tubuh "menyimpan kekebalan" dan mengajarinya bagaimana melawan Covid-19 di masa datang.

Keuntungan dari metode ini, kata Hui, vaksin ini memicu antibodi yang bagus terhadap virus dan bisa dengan mudah diproduksi. Kesulitannya adalah penyimpanan vaksin ini harus minus 70 derajat Celcius.

Hui mengutip penjelasan pemerintah soal perusahaan pemasok, Fosum Pharma, yang akan menjamin penuh keamanan distribusi yang membutuhkan waktu 20 jam perjalanan dari Eropa ke Hong Kong.

"Kesulitan teknis sudah diatasi dan saya yakin karena inilah vaksin ini dipilih," kata Hui.

(mdk/pan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.