Begini kondisi memprihatinkan saat negara di ambang bangkrut
Di beberapa negara, tujuan untuk mensejahterakan masyarakat justru gagal, bahkan mencapai kebangkrutan. Kondisi ini bisa disebut dengan krisis. Masyarakat menjadi kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari mereka.
Satu negara bisa disebut berhasil jika mampu mensejahterakan seluruh masyarakat. Namun untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah memerlukan banyak strategi agar kesejahteraan bisa merata, apalagi memimpin negara besar.
Di beberapa negara, tujuan untuk mensejahterakan masyarakat justru gagal, bahkan mencapai kebangkrutan. Kondisi ini bisa disebut dengan krisis. Masyarakat menjadi kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari mereka. Berikut beberapa cerita negara saat krisis krisis:
Sistem barter berlaku di Venezuela
Venezuela didapuk jadi negara dengan kemunduran ekonomi paling besar di 2018. The economist memprediksi, negara yang tadinya kaya raya ini harus mengalami kemunduran sebesar -11,9 persen. Penyebabnya adalah karena konflik terus menerus yang terjadi di sana. Hal ini juga diperparah dengan adanya hiperinflasi dan utang negara yang terus menumpuk.
Krisis makin parah, warga Venezuela bertahan hidup dengan sistem barter. Krisis parah serta tingginya angka inflasi yang melanda Venezuela membuat uang kehilangan nilainya. Warga pun kini terpaksa melakukan barter untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Barter bukan hanya untuk barang, tetapi juga jasa, seperti jasa memotong rambut.
Masyarakat kelaparan saat krisis Zimbabwe 2008
Di tahun ini, pemerintah Zimbabwe yang saat itu dipimpin oleh Robert Mugabe, mengalami kondisi sangat parah. Pemerintah Zimbabwe dilaporkan tengah berjuang mati-matian melawan penyakit kolera, kelangkaan pangan, inflasi parah dan konflik domestik. Saat itu juga, masyarakat Zimbabwe meminta Mugabe lengser dari jabatannya.
Lebih buruk dari itu semua merupakan hyper inflasi di mana harga-harga barang naik tak terkendali. Demi mengatasi defisitnya, pemerintah terpaksa meminjam uang dalam jumlah sangat besar dari pasar obligasi. Pinjaman mencapai 131 persen dari PDB. Utang Zimbabwe tercatat mencapai US$ 4,5 miliar dan pemerintah harus menghadapi tantangan pengendalian jumlah pengangguran yang mencapai 80 persen. Tahun 2009, Zimbabwe mendeklarasikan kebangkrutannya.
Situasi ini ditambah dengan kekeringan yang melanda Zimbabwe. Masyarakat Zimbabwe mengalami kelaparan yang berkepanjangan. Mereka sulit mendapatkan kebutuhan prioritas seperti makanan, air, layanan kesehatan, sanitasi dan perlindungan.
Krisis di Yunani lahirkan 20.000 gelandangan
Kondisi Yunani sangat memprihatinkan setelah bangkrut karena tak mampu membayar utang kepada IMF sebesar Rp 5.000 triliun. Kondisi ini terlihat semakin parah saat gelandangan di Yunani semakin banyak, dan mereka sangat kelaparan. Pendiri badan amal Emfis, Maria Karra mengatakan, Yunani telah menjadi negara dengan tingkat kemiskinan paling tinggi di Uni Eropa.
Jumlah tunawisma atau gelandangan naik 40 persen dalam tiga bulan terakhir. Pemerintah Yunani memperkirakan, ada sekitar 20.000 orang yang tidak punya rumah di Athena dari total 660.000 penduduk di daerah sana. Naiknya angka gelandangan di Yunani disebut sebagai dampak krisis ekonomi yang melanda sejak 2010 silam. Angka pengangguran meroket dari 10,6 persen pada 2004 menjadi 26,5 persen pada 2014.
Krisis moneter di Indonesia
Indonesia sempat mengalami krisis moneter selama 1997 sampai 1998. Saat itu memang sedang terjadi krisis finansial Asia tahun 1997, yang imbasnya sampai ke Indonesia. Selama kondisi ini, semua harga menjadi mahal, bentrokan terjadi di mana-mana. Soeharto, Presiden Indonesia yang menjabat saat itu, diminta lengser dari jabatannya karena dugaan korupsi yang melibatkannya.
Melonjaknya nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu penyebab krisis di Indonesia. Di bulan Agustus 1997 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah dari Rp 2.500,00 menjadi Rp 2.650,00 per 1 USD. Nilai ini terus memburuk.
Rupiah mulai merangkak naik. Rp 5.000, Rp 7.000, Rp 11.000 dan terus melemah dalam waktu singkat. Di tahun 1998, rupiah bahkan mencapai nilai paling buruk Rp 16.800 per 1 USD.