Asal komentar soal Rohingya, gelar ratu kecantikan Myanmar dicopot
Shwe Eain Si (19) menyatakan pergerakan ARSA mirip kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerang siapapun tanpa ampun. Shwe menuding ARSA dan para pendukungnya sengaja menggalang dukungan melalui media massa, sehingga terlihat mereka sebagai kaum tertindas padahal menebar teror.
Gelar seorang ratu kecantikan Myanmar, Shwe Eain Si, dicopot gara-gara unggahan dan komentar miringnya soal etnis minoritas muslim Rohingya di media sosial. Namun, dia berkeras menyatakan perbuatannya tidak melanggar hukum ataupun norma sosial.
Dilansir dari laman BBC, Selasa (3/10), kejadian itu dimulai pada akhir pekan lalu ketika Shwe mengunggah potongan video, menyatakan kalau kerusuhan di Negara Bagian Rakhine dipicu oleh ulah kelompok militan Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA). Dalam video menggunakan bahasa Inggris, perempuan berusia 19 tahun itu menyatakan pergerakan ARSA mirip kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerang siapapun tanpa ampun.
Shwe menuding ARSA dan para pendukungnya sengaja menggalang dukungan melalui media massa, sehingga terlihat mereka sebagai kaum tertindas padahal menebar teror. Di dalam videonya, Shwe memuji-muji tentara Myanmar yang dia anggap memburu kelompok militan, seolah tutup mata tentang sejumlah kesaksian menyatakan justru serdadu Myanmar membantai etnis Rohingya.
Pada Minggu pekan lalu, pihak penyelenggara kontes kecantikan memutuskan mencabut gelar Shwe. Mereka menyatakan Shwe telah melanggar kontrak dan tidak bersikap sebagaimana mestinya seorang model. Namun, mereka tidak menyinggung soal video itu.
Shwe merasa kecewa dengan keputusan itu. Dia menyatakan sebagai warga negara berhak menggunakan ketenarannya buat menyampaikan pendapat.
"Shwe Eain Si memang membuat video tentang militan ARSA di Negara Bagian Rakhine. Namun, itu tidak bisa dianggap mencederai citra seorang peserta kontes kecantikan," tulis Shwe melalui akun Facebook-nya.
Baca juga:
Myanmar obral janji siap pulangkan etnis Rohingya
Ekspresi biksu garis keras Sri Lanka yang protes muslim Rohingya
UNICEF bakal bangun 1.300 sekolah buat anak-anak Rohingya
Kecewa soal masalah Rohingya, Universitas Oxford copot lukisan Suu Kyi
Perwakilan PBB di Myanmar dianggap membiarkan pembantaian etnis Rohingya
Yang tersisa dari desa Rohingya di Myanmar