Anwar Ibrahim ditinggalkan pemilih etnis Melayu
Citra Anwar buruk karena terlalu frontal melawan pemerintah. Basis pendukungnya tinggal minoritas Tionghoa.
Hari ini, Anwar Ibrahim merayakan ulang tahun ke-65. Politikus gaek kelahiran Penang itu masih menjadi salah satu sosok utama jagat politik Malaysia. Di tahun ini pula dia bakal menghadapi salah satu peristiwa penting dalam hidupnya, yaitu pergelaran pilihan raya (pemilihan umum dalam bahasa Malaysia-red), konon bakal digelar September mendatang selepas tahun anggaran pemerintah rampung.
Saat diwawancarai media ini pada 18 Juli lalu, pemimpin koalisi oposisi Pakatan Rakyat itu memberikan pernyataan mengejutkan. Dia mengaku bakal pensiun dari dunia politik jika tidak berhasil menumbangkan pemerintahan Barisan Nasional yang dipimpin Perdana Menteri Najib Razak. "Pemilu nanti merupakan taruhan terakhir saya, tapi saya yakin menang," kata Anwar.
Namun, mantan wakil perdana menteri dengan simpatisan cukup besar di Indonesia itu tampaknya menghadapi tantangan besar untuk mewujudkan impiannya menjadi orang nomor satu di Malaysia. Setidaknya demikian pandangan guru besar ilmu politik Universiti Malaya, Chandra Muzaffar. Dibanding empat tahun lalu, popularitasnya akhir-akhir ini mulai merosot.
Chandra menilai Anwar kehilangan banyak dukungan pemilih dari etnis Melayu, sebagai mayoritas di negeri jiran itu. "Sebagian besar masyarakat Melayu tidak lagi menyokong Anwar karena beberapa rekam jejaknya dianggap buruk, terutama soal moral pribadi," kata Chandra saat dihubungi merdeka.com lewat telepon, Kamis (9/8).
Cacat moral pribadi ini merupakan imbas dari pemberitaan media Malaysia soal kasus sodomi dan pernyataan Anwar yang konon mendukung eksistensi Israel. Dua isu itu pelan-pelan menimbulkan rasa tidak simpatik dari warga Melayu mayoritas muslim.
Keterlibatan dia yang amat kentara saat unjuk rasa besar Gerakan Bersih 2.0 yang rusuh di Kota Kuala Lumpur empat bulan lalu, serta cara dia berupaya menggulingkan pemerintah pada September 2008, membuat warga mayoritas menilai pendiri Partai Keadilan itu terlalu berambisi berkuasa. "Bagi rakyat Malaysia, stabilitas politik itu utama, setelah ekonomi," kata Chandra.
Sepak terjang Anwar dirasa tidak santun dan dapat mengganggu stabilitas negara itu. Alhasil, pengamat politik kawakan Malaysia ini menduga basis pendukung Anwar tinggal penduduk dari etnis Tionghoa yang dijanjikan peningkatan hak di bidang publik. Selama ini isu segregasi politik antara bumiputera (etnis melayu) yang mendapat banyak kemudahan, dengan minoritas India dan Tionghoa merupakan salah satu api dalam sekam politik Malaysia.
Meski demikian, kelompok oposisi alias Barisan Pembangkang, masih bisa menumbangkan pemerintah. Terutama karena koalisi penguasa, Barisan Nasional bulan lalu terlibat kasus penyuapan anggota parlemen. Chandra menambahkan, langkah Perdana Menteri Razak terus menunda pelaksanaan pemilihan umum bisa menjadi bumerang bila ekonomi malah memburuk pada kuartal akhir tahun ini.
Baik penguasa maupun kubu Anwar saat ini harus saling berebut simpati rakyat untuk isu paling utama dalam jagat politik Malaysia. "Di Malaysia itu faktor penentunya adalah ekonomi. Apabila rakyat merasa ekonomi Malaysia maju, dan situasi (politik) stabil, maka pihak Barisan Nasional mendapatkan keuntungan," ujar Chandra meramalkan.