3.000 Warga Desa di Myanmar Kabur ke Thailand Setelah Wilayahnya Dibombardir Militer
Sebanyak 3.000 orang dari negara bagian Karen, Myanmar, melarikan diri ke Thailand setelah militer membombardir sebuah kawasan yang dikuasai kelompok etnis bersenjata.
Sebanyak 3.000 orang dari negara bagian Karen, Myanmar, melarikan diri ke Thailand setelah militer membombardir sebuah kawasan yang dikuasai kelompok etnis bersenjata. Militer melancarkan serangan udara di lima desa di distrik Mutraw dekat perbatasan timur, termasuk kamp pengungsian, demikian disampaikan Organisasi Perempuan Karen pada Minggu.
“Saat ini, penduduk desa bersembunyi di hutan saat lebih dari 3.000 orang menyeberang ke Thailand untuk berlindung,” jelas organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan, dilansir Al Jazeera, Senin (29/3).
“Kami meminta tanggapan internasional atas kekejaman yang sedang berlangsung untuk mengirim pesan bahwa militer tidak bisa lagi bertindak dengan impunitas,” lanjutnya.
Thai Public Broadcasting Service atau PBS Thailand juga melaporkan sekitar 3.000 orang telah tiba di Thailand. Belum ada tanggapan dari pihak berwenang Thailand terkait hal ini.
Serangan udara di negara bagian Karen adalah serangan paling besar selama bertahun-tahun di wilayah yang dikendalikan Persatuan National Karen (KNU) itu. Jaringan Pendukung Perdamaian Karen menyampaikan, serangan tersebut berlangsung setelah pengintaian helikopter di wilayah tersebut. Serangan dilakukan dengan dua jet tempur yang menjatuhkan sembilan bom pada 27 Maret malam menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya. Ada serangan udara lanjutan pada pagi dan siang keesokan harinya termasuk di sepanjang Sungai Salween yang menandai perbatasan tersebut.
Kelompok bersenjata tersebut telah sepakat melakukan gencatan senjata pada 2015 tapi ketegangan meningkat sejak militer melakukan kudeta. KNU dan Dewan Restorasi Negara Bagian Shan, juga berbasis di perbatasan Thailand, mengutuk kudeta militer dan mengumumkan dukungannya untuk perlawanan rakyat.
KNU mengatakan pihaknya telah melindungi ratusan orang yang melarikan diri dari pusat kota Myanmar di tengah meningkatnya penggunaan kekuatan mematikan aparat dalam beberapa pekan terakhir.
Aparat tembak pelayat
Selain penyerangan negara bagian Karen, kekerasan aparat juga berlanjut di berbagai tempat di Myanmar pada akhir pekan.
Di Bago, dekat kota terbesar Yangon, tentara menembak kerumunan pelayat saat pemakaman Thae Maung Maung (20) yang merupakan salah satu korban kekerasan aparat yang terbunuh pada Sabtu. Belum ada laporan kematian dari insiden ini, demikian disampaikan tiga orang di daerah itu kepada Reuters.
“Ketika kami menyanyikan lagu revolusi untuknya, pasukan keamanan datang dan menembak kami,” kata seorang perempuan yang dipanggil Aye yang hadir dalam pemakaman tersebut.
“Orang-orang, termasuk kami, berlarian ketika mereka menembak.”
Pada Minggu, sekitar 13 orang dilaporkan tewas dalam sejumlah insiden di berbagai lokasi di Myanmar, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP). Sampai saat ini sebanyak 459 warga sipil tewas selama unjuk rasa anti kudeta dan lebih dari 2.559 ditangkap.
Pelapor Khusus PBB untuk Myanmar, Tom Andrews menyampaikan militer telah melakukan “pembunuhan massal” dan menyerukan dunia untuk mengucilkan para jenderal.
“Dewan Keamanan PBB bisa bertindak terhadap kekejaman junta di Myanmar. Itu tugas mereka,” tulisnya di Twitter.
“Para anggota harus segera membuat resolusi untuk Myanmar dan menggelar pemungutan suara. Negara-negara yang berdiri bersama rakyat Myanmar bisa bekerja bersama untuk menghentikan aliran pendapatan dan senjata junta dan meminta pertanggungjawaban mereka,” jelasnya.
Presiden AS, Joe Biden, mengutuk pembunuhan di akhir pekan kemarin.
“Mengerikan, sangat memalukan,” ujarnya kepada wartawan di Delaware.
“Berdasarkan laporan yang saya terima banyak sekali orang yang terbunuh.”
Perwakilan urusan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell Fonteless menyebut situasi di Myanmar “memalukan dan mengerikan”. Dia juga mendesak militer menghentikan penggunaan kekerasan.
(mdk/pan)