3 Ketakutan para kepala negara di dunia soal pembunuhan
Meskipun mendapat pengawalan ketat, para pemimpin negara tetap saja merasa ketakutan. Inilah ketakutan-ketakutan mereka:
Menjabat sebagai seorang kepala negara atau kepala pemerintahan seperti presiden tentu mendapatkan pengawalan ketat. Semua serba diawasi, termasuk makanan apa yang dimakan.
Meski mendapat penjagaan dan pengawasan ketat, tetap saja ada rasa takut bagi seorang presiden. Berikut ini cerita para presiden yang takut adanya ancaman pembunuhan:
Presiden AS Donald Trump takut diracun
Trump dikenal sebagai penyuka makanan cepat saji. Jika dia memesan makanan di Mcdonalds, Trump biasanya memesan dua Mac Big Mac, dua Fillet-O-Fish, dan cokelat leleh.
Namun ada satu yang aneh, mengapa Trump begitu suka memesan makanan di McDonald's sampai saat ini. Alasannya, bukan karena dia menyukai makanan asin berlemak, melainkan dia takut diracun.
Penemuan tersebut tercantum dalam buku Fire and Fury: Inside the Trump White House yang ditulis wartawan Michael Wolff. Trump menyukai makanan cepat saji karena tidak ada yang tahu kalau dia berada di restoran cepat saji, sehingga kemungkinan tidak ada orang asing yang meracuni makanannya.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte
Dalam pidatonya di Cebu City, Duterte berniat untuk membuang ponselnya. Ia takut jika Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menyadap pembicaraannya dan berniat membunuhnya.
"Saya tahu AS mendengarkan. Saya tahu itu adalah CIA, yang mungkin juga bakal membunuh saya," kata Duterte.
Duterte takut AS akan membalas dendam karena kebijakan luar negerinya. Jadi, untuk mencegah gangguan dari asing, ia berencana untuk memakai ponsel lama. Menurutnya, ponsel itu tak mudah disadap. Selain itu, penggunaan ponsel lama juga makin memperkuat fakta bahwa dia tak terlalu melek teknologi.
Presiden Rusia Vladimir Putin
Ada sebuah penelitian tentang perilaku Putin. Seperti dilansir dari Time, Putin memiliki rasa takut yang mendalam terhadap Jerman. Dia takut suatu hari nanti, mereka akan bangkit melawannya, seperti yang mereka lakukan terhadap pemerintah 100 tahun yang lalu, pada 7 November 1917.
Saat itu Putin adalah seorang perwira KGB (Komite Keamanan Negara) di Dresden pada akhir 1980-an, ketika segerombolan orang Jerman memprotes dan menyerbu markasnya setelah Tembok Berlin runtuh. Saat ia berusaha mati-matian untuk membakar surat-surat resmi, ia menelepon Moskow untuk meminta instruksi. Namun tak ada yang menjawab panggilannya. Sejak saat itu ia bersumpah, ini tidak akan pernah lagi.