Masalah Klasik Liga 1: Daftar Klub yang Masih Diterpa Persoalan Tunggakan Gaji!
Masalah keterlambatan pembayaran gaji masih menjadi isu di BRI Liga 1 musim 2024/2025.
BRI Liga 1 2024/2025 telah resmi ditutup, dan Persib Bandung berhasil meraih gelar juara liga sepak bola tertinggi di Indonesia untuk musim ini. Dengan keunggulan delapan poin atas Dewa United di klasemen akhir, Persib menunjukkan performa yang solid dan nyaman dalam meraih prestasi tersebut.
Namun, di balik kesuksesan ini, BRI Liga 1 2024/2025 juga menyimpan sejumlah kisah yang kurang menyenangkan. Salah satunya adalah mengenai beberapa klub yang dilaporkan mengalami masalah dalam hal pembayaran gaji kepada para pemain mereka. Bahkan, ada satu klub yang terpaksa kehilangan banyak pemain kunci dan harus menerima kenyataan pahit terdegradasi ke Liga 2 pada musim depan, setelah hanya mampu menempati posisi juru kunci di BRI Liga 1 2024/2025. Siapa sajakah klub-klub yang mengalami situasi sulit ini?
PSIS Semarang
PSIS Semarang menjadi klub yang paling mencolok terkait isu gaji pemain di BRI Liga 1 musim 2024/2025. Hal ini disebabkan oleh dampak serius yang dialami klub tersebut akibat masalah gaji yang tidak dibayarkan. Sejak awal tahun 2025, banyak pemain PSIS Semarang yang tidak menerima gaji mereka, yang menyebabkan beberapa dari mereka memutuskan untuk pergi, termasuk bek asal Spanyol, Ruxi. Akibat situasi ini, PSIS Semarang mengalami kesulitan besar dan akhirnya harus menerima kenyataan pahit terdegradasi ke Liga 2 pada musim yang akan datang.
Dalam perkembangan terbaru, CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, mulai tampil di hadapan publik. Yoyok menyampaikan permohonan maaf atas terdegradasinya tim Mahesa Jenar ke Liga 2. Selain itu, ia juga berkomitmen untuk segera menyelesaikan pembayaran gaji para pemain yang tertunda. Dengan langkah ini, diharapkan PSIS Semarang dapat memperbaiki situasi dan memulai langkah baru untuk kembali ke kompetisi yang lebih tinggi.
Persija Jakarta
Persija Jakarta juga mengalami isu yang sama terkait penunggakan gaji, yang berdampak negatif pada performa tim. Pelatih interim Persija Jakarta, Ricky Nelson, mengakui bahwa situasi tersebut memengaruhi hasil akhir musim BRI Liga 1 2024/2025. Namun, belakangan ini, kondisi di dalam klub tampaknya mulai membaik.
"Saya pikir semua klub punya banyak masalah. Permasalahan finansial memang itu hampir semua terjadi di klub Indonesia, pasti ada. Tapi, saya tidak bisa menjelaskan secara detail seperti apa. Memang, sempat beberapa bulan lalu setelah putaran kedua ada sedikit masalah yang di mana kita semua pasti sudah paham," ungkap Ricky Nelson setelah pertandingan melawan Malut United beberapa waktu lalu.
Ricky juga menambahkan bahwa setelah mengalami keterlambatan gaji selama beberapa bulan, manajemen klub berusaha untuk menemukan solusinya. "Setelah gaji agak terlambat beberapa bulan, bisa diatasi. Jadi, saya pikir manajemen tetap bekerja keras untuk mencari solusinya. Jadi, bukan berarti tidak ada solusi, tetap ada solusi. Mereka tetap bekerja untuk bisa menstabilkan semua yang ada di masalah finansial itu. Jadi, saya tetap apresiasi mereka tetap kerja untuk hal itu," tambahnya.
Dengan upaya yang dilakukan, diharapkan situasi keuangan klub dapat kembali stabil dan performa tim dapat meningkat.
PSM Makassar
PSM Makassar juga mengalami isu yang serupa. Menariknya, masalah penunggakan gaji di tim Juku Eja ini tampaknya selalu terulang dari satu musim ke musim lainnya. Pelatih PSM Makassar, Bernardo Tavares, yang dikenal dengan sikapnya yang terbuka, telah beberapa kali mengungkapkan keluhan mengenai kondisi keuangan timnya. Hal ini tentunya dapat berdampak besar terhadap performa para pemain.
“Dari segi keuangan tidak ada gaji, tidak ada bonus. Padahal pertandingan besok adalah pertandingan yang penting bagi kita,” ujar Bernardo Tavares pada bulan Februari yang lalu.
“Tentu saja dari saya sendiri dan banyak dari pemain-pemain juga sudah lelah dengan situasi ini. Apalagi kita harus melakukan perjalanan, kita tidak main di kandang kita sendiri, di kota kita sendiri. Kita harus bermain kandang di kota lain,” tambah pelatih asal Portugal tersebut.
Semen Padang
Semen Padang FC juga mengalami situasi serupa. Charlie Scott, mantan pemain Kabau Sirah, mengungkapkan bahwa masih ada hak-hak yang belum dibayarkan oleh manajemen klub yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatra Barat. Menanggapi hal tersebut, manajemen Semen Padang yang diwakili oleh penasihatnya, Andre Rosiade, memberikan klarifikasi. Ia, yang merupakan ayah mertua Pratama Arhan, menegaskan bahwa klubnya tidak melakukan penunggakan gaji kepada pemain.
"Jadi ini bukan sengketa, Semen Padang itu tidak pernah tunggak gaji pemain. Adanya kami memutus kontrak yang bersangkutan, lalu diberikan kompensasi," ucap Andre.
"Kompensasi ini sesuai dengan keinginan CEO bahwa kita akan bayarkan setelah kompetisi, Juni mendatang. Kami membutuhkan untuk bayar Liga, gaji, dll. Uang kami prioritaskan ke situ dulu supaya kami gak nunggak gaji. Jadi kalau nunggak, mohon maaf jangan samakan Semen Padang dengan yang lain," tambahnya.