Sorotan Publik Menguat, Kak Seto Tanggapi Pengakuan Child Grooming Aurelie Moeremans
Buku "Broken Strings" yang ditulis oleh Aurelie Moeremans mengungkapkan pengalaman sebagai korban child grooming.
Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans mengungkap sejumlah pengakuan yang mengejutkan. Salah satu pengakuan tersebut adalah tentang pengalaman Aurelie sebagai korban child grooming yang dilakukan oleh seorang pria yang identitasnya disamarkan dengan nama Bobby.
Namun, belakangan ini, nama Kak Seto menjadi sorotan karena viralitas yang terjadi. Menurut berbagai sumber, orang tua Aurelie Moeremans pernah meminta bantuan kepada Seto Mulyadi, yang lebih dikenal sebagai Kak Seto, yang merupakan anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak, sekitar tahun 2010. Pihak Aurelie Moeremans mengklaim bahwa respons yang diterima tidak sesuai dengan harapan mereka.
Seiring waktu, muncul narasi yang menyebutkan bahwa Kak Seto diduga mengabaikan laporan dan permohonan yang disampaikan oleh ayah Aurelie, Jean-Marc Moeremans. Hal ini menyebabkan Kak Seto menjadi bahan perbincangan selama beberapa hari. Kini, Kak Seto telah memberikan klarifikasi terkait isu ini. Melalui pernyataan yang diunggah di akun Instagram terverifikasi miliknya, pekan ini, Kak Seto mengaku mengikuti dengan serius diskusi publik yang sedang berlangsung. Ia kemudian menjelaskan tentang praktik pendampingan anak dari waktu ke waktu.
"Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan dalam lebih dari satu dekade terakhir," ungkap Kak Seto di Instagram Stories.
Selanjutnya, Kak Seto menjelaskan bahwa pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan yang berkaitan dengan keselamatan anak maupun kasus yang melibatkan mereka disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku pada saat itu.
Standar perlindungan anak perlu diterapkan secara konsisten untuk memastikan hak-hak mereka terjaga
Namun, kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja," ujarnya.
Pernyataan Aurelie Moeremans dalam bukunya yang berjudul Broken Strings telah memicu perbincangan publik mengenai dinamika kekuasaan serta keselamatan anak. Hal ini juga berkontribusi pada peningkatan kesadaran mengenai fenomena child grooming, yang semakin menjadi perhatian masyarakat.
Kesadaran akan isu ini menjadi sangat penting, mengingat banyaknya kasus yang terjadi di sekitar kita. Diskusi yang berkembang dari buku tersebut menunjukkan bahwa perlunya pendekatan yang lebih hati-hati dan peka dalam hubungan yang melibatkan anak-anak dan remaja. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami dan mengenali tanda-tanda potensi bahaya yang mungkin dihadapi oleh anak-anak dalam interaksi sosial mereka.
Kami mengutuk tindakan tersebut!
Berkaca pada fenomena child grooming yang tengah ramai diperbincangkan, Kak Seto berkomitmen untuk menjadikan peristiwa ini sebagai cermin bagi praktik-praktik yang telah terjadi di masa lalu. Ia menegaskan bahwa pengalaman ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan, bertujuan untuk memperkuat perlindungan terhadap anak-anak di masa yang akan datang.
Dalam kesempatan yang sama, Kak Seto juga menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk relasi yang tidak setara, termasuk di dalamnya praktik child grooming.
"Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming," tegas Seto Mulyadi. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Kak Seto untuk melindungi anak-anak dan mendorong kesadaran masyarakat mengenai isu-isu yang berpotensi membahayakan mereka.
Maaf, sepertinya saya tidak dapat memenuhi permintaan tersebut
Diberitakan sebelumnya, Aurelie Moeremans mengungkapkan pendapatnya setelah Broken Strings menjadi viral. Aktris yang dikenal lewat film Kuntilanak ini menjelaskan bahwa pada awalnya, Broken Strings tidak ditujukan untuk konsumsi publik. Aurelie Moeremans menulis karya tersebut sebagai bentuk kejujuran terhadap dirinya sendiri.
"Waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya menyakitkan. Jadi ada trauma untuk bercerita. Seiring waktu aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka," ungkapnya.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3141073/original/020595100_1591095001-200601_ARTIS_TERJERAT_KASUS_NARKOBA.jpg)