Dari Layar ke Balik Kamera: Perjalanan Panjang Nicholas Saputra Menemukan Makna Passion
Dalam acara yang juga menghadirkan Najwa Shihab dan Raditya Dika, Nicholas tampil sebagai salah satu ikon utama.
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Nicholas Saputra tampil sebagai sosok yang tak hanya dikenal karena pesonanya di layar lebar, tetapi juga karena pandangannya yang matang tentang makna passion dan perjalanan hidup. Aktor sekaligus produser ini berbagi kisah reflektifnya di hadapan ratusan mahasiswa dalam acara Generasi Campus Roadshow 2025, yang digelar oleh Grab Indonesia dan Narasi di Aula GPH Haryo, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Dalam acara yang juga menghadirkan Najwa Shihab dan Raditya Dika, Nicholas tampil sebagai salah satu ikon utama. Dengan gaya bicaranya yang tenang dan lugas, ia membuka pandangan baru tentang arti bekerja dan belajar dalam hidup.
"Saya percaya hidup itu constantly belajar. Kita selalu belajar dari apapun—dari yang kita baca, dari yang kita alami, dari dunia yang kita geluti," ujarnya mantap.
Dari Aktor ke Produser: Sebuah Proses yang Alami
Nama Nicholas Saputra pertama kali melejit lewat perannya dalam film legendaris Ada Apa dengan Cinta? Namun di balik ketenaran itu, ia menyimpan kisah perjalanan yang lebih dalam: seorang pembelajar sejati yang terus mencari ruang untuk tumbuh.
Ketika ditanya apakah peralihannya ke dunia produksi merupakan bentuk pencarian baru, Nicholas menjawab dengan jujur.
"Bukan karena ingin berpindah arah, tapi karena ingin berkembang lebih jauh di jalur yang sama," katanya.
Ia menjelaskan bahwa peralihan itu datang secara alami, seiring pengalamannya yang makin luas di dunia film.
"Memang kebetulan skill-nya dari acting, masuk ke dunia film. Lalu, ketika saya mulai sering main film, saya mulai produksi video-video kecil, iklan, dan lain-lain. Dari situ muncul kepercayaan diri dan pengalaman untuk bisa menanggung proyek yang lebih besar," jelasnya.
Bagi Nicholas, menjadi produser bukan sekadar langkah baru, melainkan bentuk tanggung jawab yang lebih besar terhadap karya.
"Ini bukan karena ingin pindah ke mana-lain. Ini justru menempatkan ilmu yang saya dapatkan ke hal yang punya tanggung jawab lebih besar," tambahnya.
Passion Adalah Ketekunan
Dalam pandangan Nicholas, passion tidak cukup hanya ditemukan — ia harus ditekuni. Dunia film, katanya, mengajarkan arti kesabaran dan ketekunan yang sesungguhnya: bekerja di balik layar, menunggu proses panjang, dan menghadapi hasil yang belum tentu sesuai harapan.
"Film itu kan ada hasilnya yang menentukan: flopping atau tidak. Mungkin dari penonton, mungkin dari jumlah uang yang diterima. Tapi buat saya, kegagalan adalah proses yang patut dihargai dan dipelajari," ucapnya.
Ia menambahkan, "Kita tidak boleh menyerah hanya karena satu kegagalan. Justru di situ guru terbaik kita."
Bagi Nicholas, passion sejati bukan diukur dari keberhasilan, melainkan dari kemampuan untuk bangkit setiap kali jatuh.
Kegagalan Adalah Guru Terbaik
Dalam salah satu momen paling hening di ruangan, Nicholas mengucapkan kalimat yang menancap di benak para mahasiswa:
"Hidup ini enggak cuma untuk satu, dua, bahkan tiga bulan. Untuk menujunya, kita akan mengalami begitu banyak kegagalan."
Bagi Nicholas, hidup bukanlah sprint pendek, melainkan maraton panjang yang menuntut konsistensi. Ia meyakini, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses memahami diri dan passion yang sesungguhnya.
"Jangan takut gagal, karena justru di situ kita tahu seberapa dalam passion kita," tegasnya.
Pesan ini sejalan dengan semangat Generasi Campus Roadshow 2025, yang ingin menghadirkan ruang aman bagi mahasiswa untuk bereksperimen, berproses, dan menemukan makna dari apa yang mereka lakukan.
Belajar Tanpa Akhir, Berkarya Tanpa Henti
Di dunia yang berubah cepat, Nicholas menegaskan pentingnya terus beradaptasi dan belajar hal baru.
"Kita selalu belajar dari apapun—baik dari pengalaman, dari orang lain, maupun dari dunia yang kita geluti," katanya.
Baginya, setiap proyek adalah laboratorium pembelajaran. Dari iklan hingga film dokumenter, semua proses memberi pelajaran tentang kesabaran, kolaborasi, dan tanggung jawab.
Sebagai produser, Nicholas merasa memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap pesan dan nilai yang ingin ia sampaikan lewat karya. Ia ingin menghadirkan film yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menyentuh sisi sosial dan emosional penonton.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup sesi, Nicholas menatap para mahasiswa dengan senyum hangat.
"Kalau kalian masih muda, manfaatkan waktu untuk belajar dan mencoba banyak hal. Tapi jangan cuma mencoba, tekuni. Beri waktu untuk tumbuh," ujarnya.
Ia menegaskan, dunia profesional akan jauh lebih menuntut, sehingga masa muda adalah waktu terbaik untuk bereksperimen tanpa takut gagal.
"It’s hard work," katanya singkat namun bermakna. "Tapi kalau kamu mencintai prosesnya, hasilnya akan ikut datang."
Refleksi Hidup: Kelas yang Tak Pernah Selesai
Bagi Nicholas Saputra, hidup bukan tentang garis akhir, melainkan tentang perjalanan tanpa henti.
"Hidup itu proses belajar yang nggak pernah selesai," ujarnya.
Baginya, passion bukan tentang kecepatan meraih sukses, tetapi tentang ketulusan mencintai proses untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Generasi Campus Roadshow 2025: Ruang Tumbuh untuk Gen Z
Program Generasi Campus Roadshow 2025 merupakan kolaborasi antara Grab Indonesia dan Narasi, yang bertujuan mendukung Generasi Z dalam menemukan dan menyalurkan passion mereka secara berkelanjutan.
Menurut Dahlia Citra, Chief of Networking Narasi, kegiatan ini bukan sekadar ajang berbagi cerita.
"Generasi Campus 2025 dirancang sebagai ruang tumbuh, tempat generasi muda tak hanya mengenali apa yang mereka cintai, tapi juga berani mengeksekusinya," ungkapnya.
Sementara itu, Melinda Savitri, Country Marketing and Communications Head Grab Indonesia, menegaskan bahwa program ini adalah ruang eksplorasi bagi anak muda.
"Generasi Campus Roadshow bertujuan menghadirkan ruang tumbuh bagi anak muda untuk mengeksplorasi minat, menggali passion, dan berkembang menjadi versi terbaik dari diri mereka," ujarnya.
Rangkaian kegiatan tahun ini dimulai di Universitas Airlangga Surabaya (26 Agustus), berlanjut ke Universitas Sebelas Maret Surakarta (7 Oktober), dan akan diteruskan ke IPB University Bogor (22 Oktober), Universitas Hasanuddin Makassar (4 November), Universitas Sumatera Utara Medan (19 November), serta Institut Teknologi Bandung (9 Desember).