Lewat Solar Cell, Mobil Listrik Bisa Gunakan Energi Tenaga Surya yang Lebih Hemat
Merdeka.com - Pemerintah melalui Kementerian ESDM terus mendorong penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Tanah Air. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan energi fosil.
Perusahaan teknologi pun menyambut baik langkah pemerintah. Sejumlah perusahaan terus mengembangkan sumber energi baru terbarukan baik untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam gedung maupun mobilitas melalui kendaraan listrik (electric vehicle). Salah satunya yang saat ini dikembangkan adalah energi listrik tenaga surya (solar cell).
Praktisi Industri Atap PT Utomodeck Metal Works, Anthony Utomo mengatakan, sangat memungkinkan kendaraan listrik memanfaatkan sumber energi tenaga surya (solar cell). Di mana teknologi ini sama-sama mengusung konsep ramah lingkungan. Selain itu, bangunan komersial atau lazimnya disebut high rise building menjadi salah satu tren dalam pembangunan di perkotaan. Di mana konsep intelligent building atau bangunan pintar dengan energi bersih dapat diaplikasikan terintergarsi dengan atap solar, kaca solar atau solar pedestrian.
"Melalui fenomena ini, para pemilik gedung, arsitek, desainer rumah dan pemerintah harus dapat memahami tren dan tantangan termasuk pencampuran energi bersih unuk membangun solusi fotovoltaik (panel surya/PV) terintergrasi. Termasuk untuk kebutuhan sumber energi kendaraan listrik," ujarnya di Jakarta.
Dia melihat peluang pengembangan sumber energi tenaga surya di Indonesia sangat besar. Terlebih letak geografis Indonesia menjadikannya sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumber energi terbaik di dunia.
Secara ekonomis, Anthony mengklaim penggunaan PLTS Rooftop dapat menghemat biaya listrik hingga 15 persen-30 persen per bulan, sementara investasi yang dikeluarkan tertutupi pada tahun ke-6 hingga ke-9 setelah PLTS dioperasikan. Selain itu, masa penggunaan solar panel menurutnya bisa mencapai 30 tahun dengan perawatan yang minim.
"Dengan keunggulan itu, wajar bila permintaan pemasangan solar PV terus meningkat, apalagi sejak terbitnya Permen ESDM No. 49 Tahun 2018, dimana pemilik gedung dapat memanfaatkan PV Surya sebagai sumber listrik utama tanpa baterai dengan sistem ekspor – impor ke PLN dengan berbagai aplikasi seperti PV Glass Window, Solar Rooftop atau PV Road," ujarnya.
Tak berhenti disitu, Utomodeck menurutnya kini menawarkan sistem sewa panel surya untuk penggunaan hingga 30 tahun. Namun untuk sistem ini Utomodeck baru menyediakannya bagi segmen bangunan pemerintah, pabrik, dan komersial.
Sementara untuk residensial menurutnya masih menggunakan sistem jual – beli dengan investasi sebesar Rp15 ribu per 1 wp (watt peak).
Anthony mengatakan selama masa sewa panel surya, pihaknya menjamin perawatan dan perbaikan peralatan. "Sebenarnya solar PV kami akan minim perawatan, paling hanya pembersihan rutin dari kotoran dengan masa penggunaan alat 25 tahun hingga 30 tahun," ujarnya.
Saat ini menurut Anthony pihaknya telah menjalin kerja sama sewa panel surya untuk menghasilkan listrik sebesar 660 kwp yang tersebar di 11 lokasi. Adapun biaya sewa alat menurutnya sangat tergantung dengan lokasi user.
Sementara, dalam rangka mengakomodir perkembangan permintaan pelanggan yang menginginkan penggunaan solar PV harus sesuai dengan desain bangunan serta kearifan lokal, Otomodeck telah menjalin kerja sama dengan Hanergy Group. Ini merupakan produsen thin film solar cell terbesar di dunia.
Hasil produksi Hanergy tidak hanya berbentuk solar rooftop, tapi juga bisa diaplikasikan di jendela kaca bangunan, carport hingga di jalan atau lainnya.
"Jadi kalau ada permintaan untuk desain, termasuk permintaan untuk integrasi aplikasi solar PV, kita siap support dan kami juga telah bermitra dengan Hanergy, sehingga aplikasi akhirnya tidak hanya di atap, tetapi juga di tempat-tempat lain sesuai yang diinginkan pelanggan," imbuhnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya