Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah Perbaiki Neraca Perdagangan di 2019
Merdeka.com - Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyatakan bahwa tantangan dalam upaya perbaikan kinerja neraca perdagangan di 2019 masih sangat besar. Menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal faktor-faktor eksternal yang menekan ekspor di 2018 masih akan dirasakan di tahun ini.
"Khususnya perlambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara tujuan ekspor utama dan sentimen perang dagang," kata dia, dalam keterangan tertulis, Rabu (16/1).
Tantangan lain yang harus dihadapi Indonesia yakni harga komoditas andalan diprediksi akan terus melemah di 2019, termasuk di antaranya sawit, batubara, karet dan tembaga.
Menurut dia, meskipun harga minyak yang memperlebar defisit migas sudah mengalami penurunan tajam di akhir 2018, tapi potensi untuk kembali meningkat di 2019 masih sangat terbuka.
"Sejalan dengan rencana negara-negara OPEC dan Rusia untuk melakukan production cut secara signifikan, walaupun kemungkinan besar peningkatan harga tidak akan melebihi rata-rata harga minyak di 2018," jelas dia.
Selain itu tekanan terhadap Rupiah yang mendorong lonjakan impor di 2018 juga diprediksi masih akan dirasakan di tahun ini, meskipun dengan kadar yang lebih rendah dibanding 2018.
Meski demikian, lanjut Faisal, pemerintah masih dapat memperbaiki kinerja perdagangan, setidaknya untuk memperkecil defisit. Sejumlah kebijakan untuk meredam impor yang sudah dikeluarkan seperti kebijakan PPh 22 impor untuk barang konsumsi, program B20, maupun kebijakan TKDN, yang selama 2018 masih belum banyak terasa efektivitasnya, perlu dievaluasi, dipertajam dan diperkuat agar lebih terlihat efektivitasnya di tahun 2019.
Dalam jangka menengah panjang, revitalisasi industri manufaktur mutlak dilakukan untuk mendongkrak daya saing produk-produk manufaktur dan mendorong akselerasi pertumbuhan ekspor manufaktur.
"Apalagi mengingat harga komoditas ekspor terus tertekan. Di samping itu, untuk perbaikan neraca perdagangan jangka yang lebih pendek, pemerintah perlu lebih serius mendorong diversifikasi ke negara-negara tujuan ekspor non tradisional, sehingga ketergantungan terhadap pasar ekspor utama tidak terlalu besar," tandasnya.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya