Belajar redenominasi dari Turki

Reporter : Ardyan Mohamad | Rabu, 20 Februari 2013 09:06

Belajar redenominasi dari Turki
Rakyat Turki. Reuters.dok ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Turki merupakan salah satu negara yang mulus menerapkan redenominasi. Negara yang secara geografis berada di antara Benua Asia dan Eropa itu sejak 2005 secara bertahap menghapus tiga nol dari mata uang mereka, Lira.

Di Indonesia, wacana redenominasi masih mengundang sedikit kekhawatiran masyarakat. Pasalnya, sebagian warga mengira penghapusan nol sama dengan pengurangan nilai mata uang atau sanering.

Perwakilan Kamar Dagang dan Industri Turki (TUSKON) Osman Hakan Cepken menilai kekhawatiran itu wajar. Banyak warga biasa di Turki, termasuk pengusaha seperti dirinya, awalnya tidak terlalu paham apa maksud redenominasi.

Menurut pengakuan Osman, pemerintah Turki membuat kebijakan penamaan mata uang yang berbeda sebagai cara penyesuaian bagi masyarakat. Awal kebijakan itu berlaku, muncul Nish Turkiye Lira sebagai pendamping Lira yang sudah dikenal warga. Selang tiga tahun, Nish menjadi mata uang utama.

"Tiga tahun berikutnya, Nish kembali diganti dan mata uang kami kembali menjadi Lira. Tapi tiga nol sudah dihapus, sehingga masyarakat terbiasa," ujarnya kepada merdeka.com selepas diskusi delegasi bisnis Turki-Indonesia di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (19/2).

Selain itu, dia menyebut kunci sukses transisi penghapusan nol di negaranya adalah pasokan pecahan kecil sen dari bank sentral. Kesulitan lazim selepas redenominasi adalah tren pembulatan harga ke atas yang malah menaikkan harga barang.

Osman menyatakan untuk menghindari kecurangan pengusaha ritel seperti itu, masyarakat memang harus dibiasakan belanja dengan pecahan sen, mulai dari nominal 1, 5, sampai 10. Di Turki, pecahan sen yang nilainya di bawah Lira disebut Kurdush.

"Memang rumit, tapi setelah beberapa saat masyarakat Turki terbiasa. Karena itu sirkulasi sen di pasaran sangat penting buat menyukseskan redenominasi," ungkapnya.

Dari pengakuan pengusaha yang kerap mengekspor transformator listrik ke Eropa Barat itu, redenominasi sangat menguntungkan pelaku usaha di Turki. Ketika berbisnis dengan warga Eropa atau Amerika, mereka mudah memahami nominal transaksi meski dalam Lira sekalipun.

"Secara umum redenominasi efektif membantu pengusaha seperti saya. Laporan keuangan lebih ringkas, inflasi negara kami lebih rendah, negara Barat juga memahami nominal uang kami," tegasnya.

[rin]

Komentar Anda


Suka artikel ini ?
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya





Be Smart, Read More
Back to the top
Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Minta suami cari kerja, Maisaroh malah ditonjok pakai batu akik
  • Polisi sebut pelaku penembakan di Puncak Jaya kelompok Tenggang Mati
  • Bingung, penculik bocah TK ajak korban ke warnet nonton film porno
  • 11 hari di Jepang, ini cerita Andien tentang bulan madu indahnya
  • Anak dibui karena sabu, sang ibu malah jadi pengedar
  • Tabung gas 3 kg rawan bocor di tengah jalan
  • Balikan dengan Andrew Garfield, bagaimana perasaan Emma Stone?
  • Menangkan Hadi Poernomo, Hakim Haswandi dinilai salahi UU
  • Terbitkan 1200 ijazah palsu, rektor gadungan di Medan ditangkap
  • Mulai 2015, setiap tahun akan muncul OS Android baru!
  • SHOW MORE