5 Fakta peredaran uang di pelosok dan perbatasan Indonesia
Merdeka.com - Tanpa disadari perlakuan masyarakat Indonesia terhadap uang dolar Amerika Serikat lebih tinggi dibanding uang Rupiah. Ini bisa terlihat dari cara memperlakukan uang dolar AS dan Rupiah.
Jika uang dolar AS terlipat, maka jangan harap bisa dirupiahkan atau ditukar dengan mata uang Rupiah. Otomatis, uang dolar AS akan dijaga sedemikian rupa agar tidak terlipat dan tidak terlihat lusuh.
Perlakuan ini sangat berbeda dibanding uang Rupiah. Tidak dipungkiri, uang Rupiah masih laku dan tetap menjadi alat transaksi pembayaran meskipun sudah tampak lusuh. Padahal, Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang menyebutkan, Rupiah ditempatkan sebagai salah satu simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan seluruh warga negara Indonesia. Nyatanya, perlakuan terhadap Rupiah masih sangat rendah. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya uang lusuh yang beredar dan digunakan sebagai alat pembayaran.
Uang lusuh tidak hanya ditemui di kota besar. Uang lusuh dan tidak layak banyak juga ditemui di pelosok tanah air dan daerah perbatasan dengan negara lain. Di daerah pelosok dan perbatasan lebih parah lantaran akses terhadap perbankan sangat terbatas. Terlebih untuk daerah-daerah perbatasan yang sulit diakses oleh Bank Indonesia.
Uang lusuh sudah seharusnya tidak digunakan lagi dalam transaksi perdagangan dan harus ditarik oleh bank sentral. Itu merupakan amanat pasal 20 UU No 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) sebagaimana diubah terakhir dengan UU No 6 Tahun 2009 yang memberikan mandat bagi BI untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang Rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dimaksud dari peredaran.
Untuk menjaga kualitas uang beredar di masyarakat, Bank Indonesia punya kebijakan untuk mengganti atau menukar uang tidak layak edar dengan uang yang layak edar. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga uang Rupiah yang beredar berada dalam kualitas yang baik sehingga mudah dikenali ciri-ciri keasliannya.
Banyaknya uang lusuh di pulau terpencil dan perbatasan, karena belum terjangkaunya wilayah tersebut oleh perbankan dan uang uang hanya berputar dalam satu pulau sehingga uang menjadi tak layak pakai.
Merdeka.com mencoba merangkum beberapa permasalahan di balik penggunaan uang sebagai alat pembayaran di daerah pelosok dan perbatasan Indonesia. Berikut paparan dari Bank Indonesia.
Uang lusuh di mesin ATM
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comUang lusuh dan tidak edar tidak hanya dari hasil transaksi masyarakat. Uang lusuh pun keluar dari mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Kondisi itu ditemui di Provinsi Gorontalo. Merdeka.com mencoba membuktikannya. Saat hendak melakukan tarik tunai di sebuah ATM, yang keluar dari mesin ATM adalah uang yang sudah lusuh.
Kepala Kantor Perwakilan provinsi Bank Indonesia di Gorontalo, Suryono mengaku sudah meminta perbankan lebih selektif menyortir atau menyeleksi uang yang tidak layak edar atau rusak.
"Di sini banyak uang tidak layak edar," singkat Suryono di saat acara "Festival Karawo Gorontalo 2013" di Gorontalo, Minggu (1/12).
Kurang pasokan Rupiah
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMasalah terkait uang di perbatasan tidak hanya soal uang lusuh atau uang rusak yang banyak beredar. Di Gorontalo, masyarakat juga kesulitan mendapat pasokan uang untuk kebutuhan transaksi sehari-hari.
"Kami masih bergantung dari kantor pusat BI di Sulawesi Utara (Manado) baik uang logam dan kertas sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan uang layak di daerah sini," ujar Kepala Kantor Perwakilan provinsi Bank Indonesia di Gorontalo, Suryono.
Kelangkaan uang sangat terasa saat hari besar keagamaan. Sebab, saat hari besar kebutuhan akan uang tunai sangat tinggi dan melonjak dibanding hari biasanya. "Hari biasa mungkin kebutuhan uang tidak terasa namun untuk memenuhi uang layak edar di hari raya sangat minim bahkan kekurangannya lima kali lipat," jelas dia.
Salah satu penyebab minimnya pasokan uang tunai di Gorontalo, tidak banyak bank umum di daerah itu. Kondisi ini membuat akses masyarakat ke sektor perbankan terhambat.
"Selama ini sistem pembayaran banyak persyaratan, sistem kliring yang belum maksimal karena belum ada bank umum bahkan distribusi uangnya bank yang cukup besar menaruhnya di bank mandiri," jelasnya.
Ringgit lebih digemari
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comDi dalam negeri, alat pembayaran yang sah adalah mata uang Rupiah. Namun, , pada 17 Desember 2002 lalu, Indonesia harus rela kehilangan dua pulaunya, yakni Sipadan dan Ligitan yang jatuh ke tangan Malaysia lantaran dua pulau itu tidak menggunakan mata uang Rupiah, melainkan Ringgit.
"Kita pernah kehilangan dua pulau, Sipadan dan Ligitan. Kita tidak mau ini terjadi lagi. Pertimbangan Mahkamah Internasional kala itu, transaksi di sana tidak menggunakan rupiah tapi mata uang negara tetangga," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Lambok Antonius mendapati masyarakat di perbatasan Indonesia bagian Barat yang lebih cenderung menggunakan Ringgit dengan nilai tukar yang lebih tinggi, Lambok berharap proses redenominasi bisa segera terlaksana.
"Kalau mau beli kan pakai ringgit cuma bawa berapa lembar, kalau pakai rupiah kan itu bawa berlembar-lembar. Makanya perlu redenominasi itu," kata Lambok di Gedung Bank Indonesia, beberapa waktu lalu.
Masyarakat di perbatasan Indonesia bagian Timur dan perbatasan Indonesia bagian Barat ternyata juga punya perbedaan dalam hal penggunaan uang kesehariannya. "Yang daerah timur, misalnya perbatasan Papua dengan Papua Nugini itu kecenderungannya mereka gunakan rupiah. Tapi yang barat itu cenderung (gunakan) ringgit," tambahnya.
Uang receh paling banyak lusuh
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSetiap tahun, Bank Indonesia rutin menarik dan memusnahkan uang lusuh. Porsi uang lusuh terbesar adalah dari nominal Rp 2.000 sebesar 28,54 persen, nominal Rp 5.000 sebesar 24,42 persen, nominal Rp10.000 mencapai 14,38 persen dan nominal Rp 1.000 sebesar 13,56 persen. Selebihnya, uang pecahan besar Rp 20.000, Rp 50.000 dan Rp 100.000 di bawah 10 persen.
Uang pecahan kecil (UPK) mendominasi uang lusuh. Hal ini karena tingkat perputaran uang pecahan tersebut cukup tinggi di masyarakat. "Sehingga lebih cepat lusuh dibanding uang pecahan besar (UPB)," kata Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Difi Ahmad Johansyah kepada merdeka.com, beberapa waktu lalu.
Uang lusuh banyak di Pulau Jawa
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPulau Jawa dam Jakarta memberi kontribusi terbesar terhadap rasio uang lusuh yang diterima BI, yaitu sebesar 58.57 persen dan wilayah selanjutnya adalah Sumatera sebesar 23,33 persen.
"Hal ini mencerminkan tingginya perputaran uang dalam transaksi ekonomi di kedua wilayah ini dibandingkan wilayah lain yang masih di bawah 10 persen," ujar Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Difi Ahmad Johansyah.
Baca juga: Uang lusuh dan rusak keluar dari mesin ATM 4 Fakta soal rencana penerbitan uang NKRI Tahun depan, Bank Indonesia terbitkan uang NKRI Indonesia pelopor uang berbahan plastik 5 Fakta di balik uang USD 100 baru
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya