Sempat Terpuruk & Jual Ayam, Kedai ini Bangkit Saat Pandemi serta Rilis 3 Merek Kopi
Merdeka.com - Pandemi Covid-19 berdampak pada banyak lini kehidupan, termasuk perekonomian masyarakat. Bahkan tak sedikit yang menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), bisnis yang terpaksa tutup, dan banyak lagi.
Di lain sisi, pemuda satu ini berusaha menjaga bisnisnya tetap berdiri dan bangkit di tengah keterpurukan. Pria bernama Arif Hasan Amirudin itu mengaku sempat stres. Bahkan banting setir menjadi penjual ayam hasil olahannya sendiri.
Apalagi semenjak pandemi 2020 lalu, kedai kopinya menurun pesat. Pendapatan bulanan pun berada di angka minus. Strategi disusun demi memikat pasar di era pandemi. Hingga akhirnya mampu bangkit dan meriliskan merek kopi baru. Lantas diminati oleh sejumlah cafe.
Terutama di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), di mana mobilitas dibatasi. Penjualan via online pun mulai digalakkan. Alhasil kedai bernama 'Srawung Coffee Collective' banyak dikenal dengan tiga merek kopi cetusannya.
Sepak terjang Arif dalam membawa kedai kopi sederhananya di era pandemi cukup inspiratif. Khususnya bagi penggiat usaha muda yang tengah merintis. Simak kisah inspiratifnya berikut ini.
Terlintas Ide Bisnis dari Kesukaan

Instagram @srawungcollective @satt.cr ©2021 Merdeka.com
Bermula dari kesukaan dan kebiasaan. Arif Hasan Amirudin atau yang lebih akrab disapa 'Mas Kelik' itu mengaku punya keinginan sejak masih di bangku SMA.
"Berawal saat masih SMA si, waktu itu punya semacam cita-cita, angan-angan di masa depan pengen dan harus punya tempat yang bisa jadi sarana orang-orang atau teman-teman buat kumpul dan nongkrong gitu," kata Kelik dihubungi merdeka.com, Jumat (22/10).
Sampai akhirnya, terbesit untuk perlahan membeli alat-alat perkopian, mulai dari grinder, dripper, server, scale, dan sebagainya. Mas Kelik mulai otodidak mengenai kopi di rumah, membuat racikan, serta belajar dari para roaster handal yang dikenalnya.
"Lanjut saat kuliah pun masih sering ngopi, pindah-pindah tempat, akhirnya banyak kenal teman baru juga. Tahun 2015 mulai beli alat-alat kopi sendiri dan buat dipakai sendiri di rumah. Istilahnya home brewer gitu lah. Jadi, ya awalnya karena suka dan hobi aja," imbuh Mas Kelik sembari menjelaskan sejumlah alat.
Ide melahirkan kedai kopi sederhana, awalnya Kelik masih sewa tempat di daerah Bantul. Dibantu oleh kedua rekannya, Ihsan dan Rasyid. Yang sampai saat ini masih setia bekerja dengannya.
"Teman-teman waktu itu banyak yang menyarankan 'mbok buka warung saja si, toh sekarang kopi lagi nge-trend to'. Memang si circa 2015-2016 trend dan animo kopi lagi hype banget, apalagi di Jogja. 2016 lah akhirnya memutuskan yok ah bikin kedai kopi kecil-kecilan dulu, muncullah nama Srawung Kopi YK," sambungnya.

Srawung di luar ruangan, Instagram @srawungcollective @satt.cr ©2021 Merdeka.com
Tercetus nama 'Srawung', sesuai dengan filosofi budaya Jawa. Ingin merekatkan setiap insan dengan berbagi cerita. Baik antar karyawan maupun pengunjung kedai.
"Ya sesederhana keinginan kami, biar jadi tempat kumpul dan sesrawungan. Filosofi 'Srawung' di budaya Jawa kan luas dan juga cukup dalam to. Enggak hanya sekedar ketemu ngobrol, tapi juga berbagi pengalaman, berbagi rasa berbagi ide, dalamlah. Value srawung itulah yang kami tanamkan di sini sebagai pedoman jalannya usaha," ungkap Kelik.
Melahirkan Merek Kopi

Instagram @srawungcollective @satt.cr ©2021 Merdeka.com
Hebatnya lagi, dari warung kopi sederhana mas Kelik menggaet rekan kopi lain. Hingga terlahir merek kopi pertamanya diberi nama 'Satt Coffee Roaster'.
"Setahun kedai berjalan kami memilih rehat dulu, karena urusan dan kesibukan pribadi masing-masing. Di masa rehat itu aku manfaatkan untuk belajar, mengulik, memanajemen, mendalami dunia coffee roasting. Di tahun 2017 muncullah brand baru kami 'Satt Micro Batch Roaster' sekarang jadi 'Satt Coffee Roaster'," ujar Mas Kelik.
Tak berhenti di situ, mas Kelik dan rekan barunya merilis merek baru lagi. Hanya berselang kurang dari satu tahun.Banyak kopinya yang diburu oleh sejumlah cafe di DIY, serta menggaet cafe di luar kota. Tak sedikit bule wisatawan yang dibuat penasaran dan tak segan berkunjung ke 'Srawung'.
"Tahun 2018 masuk lagi satu orang, mas Amron. Bikin brand baru lagi 'Cangkruk Coffee Roastery'. Sama dengan Sátt yang ada di sektor roasting, hanya saja brand image dan segmentasi pasar memang dibuat berbeda," terangnya.
Mengadakan Kelas Kopi Gratis

Instagram @srawungcollective @satt.cr ©2021 Merdeka.com
Kebermanfaatan lahirnya Srawung ini dengan rutin mengadakan belajar mengenai kopi. Tak dipungut biaya sama sekali dan sifatnya umum.
Sehingga semua yang penasaran dengan pembuatan kopi nikmat bak cafe kenamaan, bisa dikulik bersama di sana. Tak sedikit mahasiswa, masyarakat, dan anak muda penikmat kopi yang terlibat.
"Sebelumnya Srawung dan Sátt rutin mengadakan event maupun kelas bersama pegiat kopi lain, dan terbuka untuk umum juga," tutur mas Kelik.
Meski sayangnya selama PPKM masih berlangsung, kelas kopi sementara belum diadakan. Sampai pemerintah benar-benar merelaksasikannya untuk wilayah DI Yogyakarta.Selain itu jika diadakan lagi, maka para peserta diwajibkan ketat menerapkan disiplin protokol kesehatan.
"Namun, hal itu saat ini sedang vakum sejak PPKM. Biasanya untuk kelas kolektif dengan tema green coffee introduction, cupping protocol, basic sensory, basic roasting," tambahnya.
Langkah ini dinilai mampu membimbing para generasi muda yang memiliki keinginan berbisnis kopi juga. Atau sekedar ingin meracik kopi dengan benar dan nikmat di rumah.
Pernah Terpuruk dan Stres, Hasil Minus

Menu di Srawung Coffee Collective, Instagram @srawungcollective @satt.cr ©2021 Merdeka.com
Tentu di awal melangkah mas Kelik merasa begitu berat. Beban memulai dari nol, baik sisi modal, relasi hingga klien. Semua tengah dibangun perlahan.
"Satu sampai dua tahun pertama itu aduh rasane jalannya abot (berat) banget, struggle. Dari situ kami belajar banyak hal. Bounding kami makin kuat, dapat circle yang membangun juga. Terpuruk secara mental sih aku yo pernah," imbuhnya tertawa.
Terutama saat pandemi Covid-19. Salah satu kendala yang tak pernah terduga. Di mana para pelanggan cafe banyak yang tutup, serta pembeli berkurang. Pendapatan bulanan menjadi minus.
"Pandemi mulai 2020 tu waduh berat banget buat kami, sektor fnb dan jasa produk to. 3 sampai 5 bulan awal pandemi itu minus terus per bulannya. Faktor X yang tidak pernah kami duga. Putar otaklah di situ," ceritanya.
Bangkit di Era Pandemi Andalkan Jualan Online

Instagram @srawungcollective @satt.cr ©2021 Merdeka.com
Para pegiat bisnis, baik yang besar maupun merintis dari awal, akan menemukan tantangan besar di era pandemi Covid-19. Memikirkan apa yang dibutuhkan masyarakat, serta proses yang cepat dan mudah.
Akhirnya mas Kelik mengembangkan 'Srawung Coffee Collective', yang berada di Ngentak, Timbulharjo, Bantul, DI Yogyakarta. Menyesuaikan keinginan orang untuk bisa bekerja di masa PPKM, termasuk belanja online di rumah.
"Cara sustain di era pandemi ya, manajemen keuangan yang lebih ketat dan rapi. Cek kondisi pasar produk seperti apa yang dibutuhkan oleh customers, seperti coffee shop dan resto. Lalu sistem pakai saja dulu bayarnya entar kalau sudah laku. Ini terhadap customers. Lalu upselling ke pembelian online seperti instagram, grabfood, shopeefood, gofood, Tokopedia," tutur mas Kelik.
Penjualan kopinya bukan hanya dalam bentuk minuman saja. Pelanggan bisa membeli kopi berbagai merek cetusannya, baik dalam bentuk bijian atau dihaluskan, sesuai selera. Sejumlah merek pun dikeluarkan lagi demi menarik minat.
Tak berhenti di situ, berkat berbagai macam jasa jual-beli online. Bisnis kopi mas Kelik justru meningkat pesat dibanding sebelumnya.
"Setahun terakhir alhamdulillah penjualan via online meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ya mungkin karena kultur konsumen sekarang gitu juga ya, banyak via online. Memperbanyak brand supaya mendapatkan segmentasi pasar yang lebih luas juga si," tandasnya.
Dari mimpi sederhana, merangkak dari bawah, hingga memberi lapangan pekerjaan. Kini mas Kelik sudah memiliki 8 karyawan, omzet puluhan juta, dan sejumlah rekan bisnis. Termasuk membangkitkan para petani kopi dengan harga yang pantas. Lantaran mas Kelik terjun langsung ke desa-desa untuk memantau sistem pertanian dan memilih biji kopi, dengan kualitas yang sesuai kriterianya.
"Alhamdulillah angan-anganku dulu mulai tercipta, sesimpel punya tempat kumpul dan bisa menyediakan lapangan kerja buat orang lain. Itu cukup membuatku bahagia," pungkasnya.
Kini bisnis mas Kelik sudah melahirkan tiga merek yang dengan nama Satt Coffee Roaster, Rumah Sangrai Cangkruk, dan Srawung Coffee Collective.
(mdk/kur)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya