SMS, hidup segan mati tak mau (3)
Merdeka.com - (Part 1) (Part 2)
Waktu terus berjalan, teknologi semakin berkembang, perangkat-perangkat mobile baru terus bermunculan. Akhirnya ada satu masa yang menjadi titik ketika SMS secara perlahan harus tergencet dengan aplikasi baru yang lebih menarik. BlackBerry berjaya mengalahkan ponsel yang hanya tawarkan fitur SMS saja.
BlackBerry dikatakan mampu menarik minat banyak orang karena perangkat ini boleh dibilang merupakan pengembangan dari PDA dengan desain dan bentuk yang lebih kecil serta menawarkan satu fitur yang akhirnya menjadi 'pembunuh' SMS yaitu BlackBerry Messenger (BBM).
Walaupun tidak secara drastis banyak ponsel berubah haluan dan mengganti perangkatnya menggunakan BlackBerry yang miliki fitur BBM namun pengguna ponsel tetap tinggi. Akan tetapi, dari bulan berganti bulan, BBM menjadi satu icon kebangkitan aplikasi multifungsi yang mampu menggabungkan layanan chatting, email, SMS, MMS serta MMS dalam satu perangkat.
Selain BBM, aplikasi atau layanan jasa chatting seperti Google Talk, iMessage, AIM, Yahoo Messenger, Skype serta jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter mulai mendapatkan tempat dan disukai banyak kalangan (Pocket Now - 2012). SMS semakin terjepit.
Kemirisan eksistensi SMS juga ditambah lagi dengan banyaknya operator di beberapa negara yang tawarkan layanan telepon gratis ke sesama pengguna produknya dari jam-jam khusus, namun untuk layanan SMS, mereka masih masih tetap mengenakan biaya, walaupun tarifnya sedikit dipangkas.
Untuk beberapa tahun terakhir, operator-operator seluler di Indonesia juga berlomba-lomba menawarkan tarif SMS dengan harga yang murah meriah disertai dengan bonus-bonus khusus yang istilahnya adalah perang tarif.
Sayangnya, walau dengan perang tarif tersebut, SMS masih terkesan menjadi pilihan kedua ketika layanan internet atau layanan yang diberikan pemilik aplikasi chat tidak memungkinkan.
(Part 4) (mdk/das)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya