Rizieq soal salat Jumat di jalan: Bukan kami keras kepala & ngotot

Rizieq soal salat Jumat di jalan: Bukan kami keras kepala & ngotot. "Kami belajar dari aksi 4 November lalu, saat kami gelar Salat Jumat di Istiqlal, ternyata masjid tidak dapat menampung jemaah yang datang tumpah ruah. Setelah bubar Salat Jumat, keluar dari masjid terjadi penyempitan di pintu-pintu."

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Rizieq soal salat Jumat di jalan: Bukan kami keras kepala & ngotot
Habib Rizieq. ©kapanlagi.com

Kepolisian dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) akhirnya mencapai kesepakatan terkait rencana demo 2 Desember mendatang. Demo ini kelanjutan dari aksi 4 November lalu, di mana tujuannya agar Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama segera diadili terkait ucapannya menistakan agama karena menyinggung Surah Al Maidah. Salah satu kesepakatan utama dalam pertemuan ini adalah, terkait rencana pemakaian Jl MH Thamrin-Sudirman untuk digelar salat Jumat berjemaah. Namun rencana itu menjadi polemik. Hingga akhirnya diputuskan dilakukan di kawasan Monas, Jakarta Pusat.Perwakilan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) yang dipimpin oleh Habib Rizieq mengatakan, disetujuinya Monas sebagai lokasi Salat Jumat setelah dilakukan dialog intens dengan kepolisian yang dijembatani MUI.Dia sempat menjelaskan alasan GNPF memilih lokasi Salat Jumat di jalanan."Kami belajar dari aksi 4 November lalu, saat kami gelar Salat Jumat di Istiqlal, ternyata masjid tidak dapat menampung jemaah yang datang tumpah ruah. Setelah bubar Salat Jumat, keluar dari masjid terjadi penyempitan di pintu-pintu, belum lagi di luar sudah ada jemaah kemudian bergabung. Akibatnya ada yang terhimpit, terjatuh dan pingsan, ini membahayakan jiwa peserta aksi, itu yang menjadi alasan kami tidak mau mengulang kondisi serupa," jelas Rizieq di Kantor MUI, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/11).Atas kondisi itu, kemudian, kata dia, muncul lah usulan salah di sepanjang Jl MH Thamrin dan Sudirman. Tujuannya, bisa menampung berapa pun jumlah jemaah dan jalur mobilisasi evakuasi terbuka lancar."Sehingga umat bisa masuk dari mana saja, bahwa itu lebih aman, ditambah lagi mobilisasi ambulans, logistik, mana kala ada hal-hal terjadi pada peserta aksi. Karena kemarin ambulans tidak bisa masuk, saya sendiri dua jam sampai mobil komando dalam desakan dan himpitan. Sehingga bisa pahami alasan kami," bebernya."Bukan kami keras kepala dan ngotot tapi ada pertimbangan keamanan. Keselamatan jiwa peserta aksi tak boleh diabaikan," tegasnya.Dalam kesempatan yang sama, dia menyampaikan terima kasih pada MUI telah menjembatani perbedaan pandangan terkait aksi 2 Desember mendatang antara Polri dan GNPF."Atas nama segenap pengurus GNPF kami sampaikan apresiasi dan penghargaan tinggi kepada MUI yang dipimpin KH Ma'ruf Amin. Yang selama ini telah menjadi jembatan antara kami dan pemerintah sehingga terbuka pintu komunikasi, karena awalnya memang tetap bertahan menggelar aksi itu Bundaran HI, sementara pemerintah dalam hal ini kepolisian memberikan alternatif lain. Kami tetap Salat Jumat di Istiqlal, kemudian masing-masing dari kami tetap pada pendapatnya, kemudian menjadi polemik bahkan polemik nasional," sambungnya."MUI terima kasih di tengah-tengah kami, komunikasikan sehingga kami masing-masing pihak dengan argumentasi masing-masing, setelah dibuka komunikasi tersebut melalui dialog," pungkasnya.

Rekomendasi