Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menhan pertanyakan data TB Hasanuddin soal Hercules

Menhan pertanyakan data TB Hasanuddin soal Hercules hercules. cdn-www.airliners.net

Merdeka.com - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro membantah pernyataan Komisi I DPR yang melihat ada kejanggalan atas hibah pesawat hercules dari Australia. Terlebih, ada beberapa anggota yang beranggapan nilai perbaikan pesawat mencapai USD 60 juta untuk satu pesawat jenis C 135 itu.

"Tim ahlinya saja baru di Australia, tim di sana akan lakukan inspeksi terhadap empat pesawat akan lakukan begini-begini. Biayanya berapa nanti akan kembali ke Indonesia dan melapor ke Angkatan Udara. Nah, dia dapat nilai segitu dari mana?" ujar Purnomo di Istana Kepresidenan, Jumat (6/7).

Tim inspeksi itu, lanjut Purnomo, sedang melakukan pengecekan terhadap beberapa pesawat yang akan dihibahkan ke Indonesia. Karena itu, dia meminta agar DPR bersabar sebelum laporan mengenai nilai perbaikan pesawat sudah dilaporkan ke pemerintah.

"Makanya kita katakan agar sabar dulu, tunggu tim inspeksi kita datang kemudian melapor ke Kepala Staf Angkatan Udara lalu ke kita (Kemhan), nanti kita olah lagi dan kita yang bilang kemahalan," tandasnya.

Mantan Menteri ESDM ini mengatakan setiap pesawat baik baru maupun lama pasti akan melalui proses pemeriksaan lebih dulu sebelum terbang. TNI AU juga menyampaikan pesawat Hercules yang akan diterima itu masih dapat terbang 10 sampai 15 tahun lagi.

"Memang kalau dinamakan pesawat terbang, jam terbang masih bisa sampai 10-15 tahun. Tapi setiap pesawat terbang untuk layak terbang harus lewati overhaul dan pasti masuk ke hanggar, dan sebagainya. Tidka bisa terbang terus," ungkap dia..

Seluruh pembiayaan overhaul dan upgrade yang dilakukan ini menggunakan dana dari APBN. Hal ini baru dilakukan jika Kemhan sudah menerima masukan dari tim ahli, Kemhan baru akan mengajukan anggaran kepada DPR untuk membiayai proses perbaikan yang dibutuhkan.

"Nanti berapa, baru kita ajukan. Semua didukung pemerintah lewat pertahanan didanai APBN lewat persetujuan DPR. Kalau tidak memungkinkan tahun ini, kita pakai APBN 2013," tutupnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin menyampaikan kejanggalan soal hibah empat Hercules dari Australia. Hasanuddin menilai biaya yang dibutuhkan untuk perbaikan terlalu mahal.

Hasanuddin menyoroti keputusan pemerintah untuk menerima hibah empat pesawat Hercules dari Australia. Walau hibah, pemerintah tetap harus mengeluarkan uang sebesar USD 60 juta atau sekitar Rp 564 miliar. Pesawat itu dinilai tidak layak terbang sehingga biaya yang dikeluarkannya pun besar.

"Aneh memang , karena dalam waktu yang sama Australia juga menawarkan 6 buah pesawat sejenis (dan dalam kondisi siap operasional) seharga 90 juta USD atau 15 juta USD/unit. Artinya harga jual dan harga hibah sama," tambahnya.

Dengan uang 150 juta USD, Politisi PDIP ini menyarankan, sebaiknya membeli saja Hercules baru sebanyak 5 buah. Dengan pesawat baru, Indonesia mampu menghemat biaya pemeliharaan dan jumlah jam terbang yang banyak serta aman dipakainya. (mdk/ian)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP