Kisah mereka yang lolos dari petrus di zaman Soeharto

Reporter : Didi Syafirdi | Sabtu, 13 April 2013 16:27




Kisah mereka yang lolos dari petrus di zaman Soeharto
Razia Preman. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Tato di rezim Orde Baru, tahun 1980-1985 diidentikan dengan preman. Kala itu, ada istilah penembak misterius atau petrus yang bertugas membersihkan para preman-preman. Tanpa ampun, mereka yang dicap sebagai penjahat menjadi sasaran pembunuhan.

Operasi bersih-bersih ini hampir dilakukan di seluruh daerah. Komnas HAM mencatat ada 2.000 korban selama petrus bergentayangan. Tahun 2012, Komnas HAM menyimpulkan petrus adalah pelanggaran HAM berat. Hingga kini siapa para petrus itu masih jadi misteri.

Keadaan ini tak hanya membuat para preman yang menamakan dirinya Gali alias gabungan anak liar resah, orang-orang biasa, tetapi mempunyai tato juga ketakutan. Mereka khawatir menjadi korban keganasan petrus.

Kisah ini dialami oleh seorang guru di Bogor, sebut saja namanya Peter. Peter yang berasal dari Indonesia Timur memiliki sejumlah tato di tubuhnya. Gemetar dengan aksi petrus, Peter pun memilih ngungsi ke rumah kakaknya yang tentara di Jonggol, untuk beberapa bulan.

"Waktu itu ketakutan dengan petrus. Isunya orang bertato dicariin, bokap gue takut," kata sang anak yang enggan menyebutkan namanya kepada merdeka.com, Sabtu (13/4).

Apalagi, katanya, waktu itu teman Peter yang memiliki tato tiba-tiba saja menghilang. Bahkan, sampai Peter tutup usia, tak ada lagi kabar berita mengenai sang teman yang memiliki tato.

"Satu kampung, mereka dicap preman. Bokap sendiri punya pengalaman temannya hilang, dan tidak ketemu," katanya.

Setelah isu petrus mulai mereda, Peter baru memberanikan diri kembali berkumpul dengan orangtuanya. "Akhirnya bokap gue bisa hidup tenang, dan jadi pengusaha," katanya.

Pengalaman buruk soal petrus juga dialami oleh Toni, warga Margahayu, Bandung. Pada tahun 1980-an, Toni menjadi korban salah tangkap para petrus yang disinyalir sebagai orang-orang terlatih.

Di Rukun Warga (RW), tempatnya tinggal waktu itu ada dua nama Toni. Toni yang dicari adalah preman yang suka meminta uang secara paksa ke tukang parkir di Terminal Kebon Kalapa. Sedangkan Toni yang ditangkap adalah seorang guru.

Pada suatu malam, Toni dikejutkan dengan kedatangan sejumlah pria yang memaksanya masuk ke dalam mobil Land Rover. Di dalam mobil, muka Toni ditutup kain hitam, dan lehernya sudah dijerat dengan tali.

"Saya bukan preman, saya guru. Saya sampai sumpah-sumpah," ungkap Toni menceritakan pengalaman buruknya ke para tetangga.

Mendengar itu, salah seorang petrus memerintahkan agar identitas Toni diperiksa. Setelah KTP-nya dicek, dan para pembunuh berdarah dingin meyakini kalau salah orang, akhirnya Toni dibebaskan.

"Saya dibuang di Cikole sekitar 16 kilometer dari Margahayu, dengan tangan diikat," ujarnya.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Toni yang dicari-cari ditemukan tewas mengenaskan di pinggir jalan Kota Bandung. Warga meyakini si tukang palak itu tewas di tangan para penembak misterius.

[hhw]

KUMPULAN BERITA
# Premanisme

JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya







Komentar Anda


Be Smart, Read More
Back to the top

Today #mTAG iREPORTER
LATEST UPDATE
  • Sudah meninggal, pemuda Rumania bikin panik puluhan mantannya
  • Penerawangan Mbah Rekso tentang malam 1 Suro
  • Wow! Ternyata ada misteri di dalam trailer 'AGE OF ULTRON'
  • Tokyo Ska Paradise Bikin Venue SoundFair 2014 Bergoyang
  • Nikah Kedua Kalinya, Aldi Taher Tetap Deg-degan
  • Jelang nikah, Aldi Taher dilarang bertemu kekasih
  • Asyik main golf, bola Jessica Simpson 'dicuri' anaknya sendiri
  • Main gusur, wali kota Banda Aceh dituding tak paham penataan PKL
  • Kim Jong Un diduga eksekusi enam pejabat Korea Utara
  • Kadin sesalkan Jokowi akan hilangkan kementerian ekonomi kreatif
  • SHOW MORE