Kisah lelaki pembagi kondom di pelacuran Bali

Reporter : Ramadhian Fadillah | Senin, 21 Oktober 2013 02:26

Kisah lelaki pembagi kondom di pelacuran Bali
pria pembagi kondom di pelacuran bali. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Jelang tengah malam Lokalisasi Danau Tempe, Sanur, Bali sudah ramai oleh pengunjung. Di lorong-lorong sempit dan remang-remang, para pekerja seks komersial (PSK) tampak berbincang dengan pelanggan mereka.

Sebagian lagi masih duduk, atau sibuk merias diri. Menunggu lelaki yang mengajak mereka kencan dengan imbalan selembar Rp 100.000 sekali masuk kamar.

Heri Utomo (48) malam itu mengunjungi lokalisasi kelas teri tersebut. Heri sudah belasan tahun bergaul akrab dengan para wanita malam. Dia aktivis anti-AIDS dari Yayasan Kertipraja.

"Mas Heri, bagi kondomnya mas. Punyaku habis," kata Dewi, salah satu PSK.

Heri mendekat, berbincang dengan PSK itu. Menanyakan kesehatan dan memberikan dua pak kondom isi empat.

"Kurang, mas. Lagi dong," rayu Dewi yang berdandan seronok malam itu.

Heri pun memberikan satu pak kondom lagi. Dia berkeliling dari satu pondok ke pondok lain malam itu untuk memberikan kondom gratis.

"Saya memberikan kondom gratis untuk pencegahan. Selain itu memberi penyuluhan, Yayasan Kertipraja juga melakukan tes kesehatan dan merawat orang-orang yang tertular HIV," kata Heri pada merdeka.com yang ikut blusukan masuk Lokalisasi Danau Tempe, Sabtu (19/10).

Obat ARV atau antiretriviral tak bisa menyembuhkan HIV/AIDS, tetapi mencegah virus berkembang biak. Orang yang terinfeksi pun tak kehilangan daya tahan tubuh selama mengonsumsi obat ini.

Heri mengaku mendapat bantuan dari pemerintah dan LSM luar negeri untuk menangani penyakit HIV/AIDS di Bali. Termasuk untuk kondom dan obat ARV.

"Penderita yang kami tangani sekitar 200 orang. Kebanyakan penyebaran karena hubungan seksual," kata dia.

Menurutnya, PSK kelas rendah justru paling rentan. Konsumen mereka belum seluruhnya sadar menggunakan kondom.

"Kalau bule itu sudah pasti minta pakai kondom. Kalau orang lokal yang agak sulit. Katanya kurang enaklah, kagoklah," beber ayah tiga anak ini.

Awalnya, sekitar tahun 1999, Heri mengurusi masalah penyakit kelamin. Tetapi karena HIV/AIDS makin marak, sejak 2004, dia ikut terjun mencegah dan mengobati HIV.

Saat itu masuk ke lokalisasi cukup sulit. Para germo dan PSK menolak. Teman Heri bahkan mau dipukul oleh preman yang menjaga pelacuran.

Butuh pendekatan khusus untuk mendekati PSK. Pelan-pelan kehadiran Heri bisa diterima dengan baik. Kini para PSK mengaku sangat terbantu dengan Heri.

"Saya kenal Mas Heri sudah lama, hampir 11 tahun. Orangnya baik," kata Nina, seorang PSK yang mangkal di Danau Tempe.

Para penjaga lokalisasi pun sudah akrab dengan Heri. Bahkan Heri kadang dipanggil Pak Dokter. Lulusan Antropologi Universitas Udayana itu pun selalu menolak.

"Saya bukan dokter," katanya.

Heri juga membagikan kondom dan melakukan tes pada wanita yang bekerja di panti pijat, karaoke dan salon. Mereka pelacur terselubung yang bisa melayani pelanggan jika diminta.

Para wanita itu pun selalu berterima kasih pada pria yang selalu membawakan kondom untuk mereka.

Baca juga:
Biar bisa digaet turis asing, PSK di Bali rela 'memancing'
Potret suram pelacuran kelas teri di Bali
Disebut sampah masyarakat, 11 wanita penghibur laporkan polisi
5 Kelas prostitusi di Bali
Bali rasa Banyuwangi di pelacuran kelas teri

[did]

Komentar Anda


Suka artikel ini ?
Kunjungi portal hao123 untuk akses internet aman dan nyaman


JANGAN LEWATKAN BERITA
Follow tag merdeka.com akan membantu untuk mendapatkan berita yang sesuai preferensi Anda. Misal Anda suka berita Anas Urbaningrum, masukkan email dan Anda hanya akan menerima berita seputar Anas Urbaningrum.

Let's be smart, read the news in a new way.
Tutup
Kirim ke teman Kirim copy ke email saya
Kirim ke

Free Content

  • URL Blog

  • Contoh : merdeka.wordpress.com

  • Email

  • Password


saya setuju menggunakan konten merdeka.com dan mengetahui bahwa merdeka.com tidak menyimpan informasi login saya






Be Smart, Read More
Back to the top
Today #mTAG
LATEST UPDATE
  • Nia Daniati tanggapi kicauan Farhat Abbas tentang Olga Syahputra
  • YLKI: Subsidi premium dicabut, apa kompensasi buat rakyat?
  • Kasus korupsi Alkes di Tangsel, Dadang Suprijatna ditahan KPK
  • Tanggapi kicauan Farhat Abbas untuk Olga, Julia Perez buka suara
  • ABG lulusan SMP asal Bogor dijual di tempat hiburan malam di Jakarta
  • Korban guru ngaji cabul di Pekanbaru bertambah
  • 7 Keusilan Google dan perusahaan teknologi lainnya saat April Mop
  • Usai melamar pekerjaan di PRJ, Nabila tewas terlindas kontainer
  • Rugi jual premium, Pertamina naikkan elpiji 12 kg Rp 8.000/tabung
  • DPRD mau Ahok bacakan sendiri laporan pertanggungjawaban APBD 2014
  • SHOW MORE