Warteg selera pilot, pramugari, hingga turis asing
Merdeka.com - Selama jam makan siang, macam-macam orang datang berkunjung ke komplek warung tegal di area parkir sepeda motor Terminal 2F, Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Mulai dari sopir taksi hingga keluarga pengantar para penumpang pesawat. Suasana demikian semarak di satu-satunya komplek warteg dalam kawasan bandara tersebut.
Warung makan inilah yang menjadi tempat favorit bagi pencari makanan murah meriah di bandara. Seperti lazimnya diketahui, harga makanan di bandara seringkali lebih mahal jika dibandingkan menu sejenis, mengingat tingginya biaya sewa.
Siapa sangka, tak cuma orang-orang berkantong cekak mampir ke jejeran warteg bandara.
"Ada juga pilot sama pramugari kalau mereka lagi santai saja. Tapi jarang, kan mereka juga sering dapat makanan dari (maskapai penerbangan)," kata Nunung (40), salah satu pemilik warung saat berbincang-bincang dengan merdeka.com akhir pekan lalu, sambil melayani para pembeli.
Nunung menceritakan warungnya pernah kebanjiran pembeli oleh rombongan calon Tenaga Kerja Indonesia yang akan berangkat ke luar negeri atau pun pengantar rombongan jamaah umrah.
Makanan yang menjadi favorit pun beragam, namun para pengujung yang akan makan di tempat Nunung sering memesan sambal terasi dan tempe orek. Tak jarang pula, para pengunjung hanya memesan minuman untuk menyegarkan tenggorokan. Budi (52) yang berprofesi sebagai pengemudi taksi menjadi langganan Nunung untuk sekedar minum es teh manis ataupun kopi. Dia mengaku setiap mendapat uang lebih, pasti akan menyempatkan makan enak di warung Nunung.
"Banyak teman-teman juga makan di sini. Murah, engga menghabiskan uang setoran kita," kata Budi berseloroh.

Bahkan turis mancanegara ikut santap siang di warung Nunung. Merdeka.com turut berbincang-bincang dengan Mahmoud (36) warga negara Uni Emirat Arab, bersama dengan kekasihnya orang Indonesia, Sintia (27) dan tiga orang temannya. Mereka santap siang di warung Nunung sambil menunggu penerbangan malam hari.
Mahmoud mengungkapkan makanan sederhana khas Indonesia sangat enak sekali dinikmati. Selain harganya murah dia baru pertama kali makan di tempat sederhana seperti warung yang berada di area parkir bandara.
"Saya diajak sama pacar saya dan temannya, enak makanan di sini. Walaupun tidak seperti restoran tetapi murah," kata Mahmoud dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
Seperti restoran lain di dalam bandara, warung Nunung dan yang lainnya buka 24 jam. untuk menyiasati tenaga pelayan, para pemilik memakai sistem shift. Nunung menceritakan jika sudah pulang, lapaknya diisi oleh pedagang lain. Nunung tak merasa keberatan, sebab dia dan pedagang lainnya tidak membayar biaya sewa lapak.

Komplek Warteg di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta (c) 2016 Merdeka.com/Intan
Nunung mengklaim omzet perhari yang didapatnya mencapai jutaan Rupiah. "Bisalah, Rp 3 juta per hari," ujarnya.
Dia membandingkan bisnisnya relatif lebih menguntungkan dibanding membuka gerai makanan atau tempat usaha di dalam bandara, yang ongkos sewanya mencapai Rp 50 juta per tahun. Itu pun hasil dari usahanya harus dibagi dua dengan pengelola bandara, yakni PT Angkasa Pura II.
Dengan biaya setinggi itu, wajar bila harga makanan yang disajikan di dalam bandara justru lebih mahal dua kali lipat dibanding restoran sejenis.
"Saya sudah 20 tahun di sini. Engga dipungut biaya apa pun dari AP II. Ya kalau mau makan yang murah meriah sederhana sih di sini saja daripada di dalam (bandara)," kata Nunung.
Keberadaan lima lapak warung tegal di kawasan dalam bandara ini rupanya didukung oleh manajemen PT Angkasa Pura II. Para pedagang tidak pernah mengalami pengusiran.
Dihubungi terpisah, Senior General Manager AP II Bandara Soekarno-Hatta, Suriawan Wakan, menyatakan pedagang makanan di area dekat parkir memang sudah ada sejak lama. Warteg ini hanya terdapat di Terminal 2. Di terminal 1 atau 3 warung sejenis ini tidak dapat ditemui.
Pihaknya menjelaskan para pemilik warung hanya dipungut biaya sewa, atas alasan mendukung pengusaha bermodal cekak. "Tidak bayar sewa, tapi mereka hanya membayar listrik dan air," kata Suriawan.
Baca juga liputan merdeka tentang bisnis warteg:
Menelusuri rumah-rumah mewah di Kampung Warteg SidakatonPraktik mistis pedagang wartegHikayat tempe di Warung TegalKisah sukses pedagang wartegUlama dan santri di Serang dukung razia warteg yang buka saat puasaKeluhan pedagang warteg harga jengkol lebih mahal dibanding ayamMewahnya 'istana' pengusaha Warteg, mirip rumah di Pondok Indah (mdk/ard)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya