Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harga Kedelai Naik, Begini Curhat para Perajin Tempe yang Terancam Gulung Tikar

Harga Kedelai Naik, Begini Curhat para Perajin Tempe yang Terancam Gulung Tikar Curhat perajin tempe di Jateng. ©YouTube/Liputan6 SCTV

Merdeka.com - Akhir-akhir ini, harga kedelai terus mengalami kenaikan. Pada 2020, harga kacang kedelai di tingkat konsumen masih sekitar Rp 8.500 per kilogram. Namun pada 2021 harganya sudah naik menjadi Rp 9.500-10.000 per kilogram. Kini, harga kacang kedelai sudah berada di atas Rp 11 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini membawa dampak bagi para perajin tempe, khususnya yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Bahkan mereka terancam gulung tikar. Demi bisa bertahan, mereka terpaksa memperkecil ukuran tempe serta mencampur bahan utama kedelai dengan ampas tahu.

Tak hanya itu, naiknya harga kedelai juga membuat para perajin tempe menurunkan jumlah produksi mereka. Begini curhatan para perajin tempe di tengah kondisi harga kedelai yang terus naik:

Perajin Tempe Resah

curhat perajin tempe di jateng

©YouTube/Liputan6 SCTV

Kenaikan harga kedelai yang terjadi di beberapa tempat membuat para perajin tempe resah. Sri Ungatminah, salah seorang perajin tempe asal Rembang, mengaku bingung.

Sebelumnya, saat harga kedelai naik jadi Rp10 ribu per kilogram, sebenarnya ukuran tempe sudah diperkecil. Jika kembali mengurangi ukuran tempe ia khawatir akan diprotes pembeli. Ia pun kini hanya bisa pasrah tempenya tetap laku agar tidak merugi.

“Ya bagaimana lagi, keuntungannya ya cuma sedikit. Kalau tempenya nggak ada bakul ya pasti rugi, wong keuntungan cuma sedikit,” kata Sri dikutip dari kanal YouTube Liputan6 SCTV pada Kamis (17/2).

Terpaksa Liburkan Para Pekerja

curhat perajin tempe di jateng

©YouTube/Liputan6 SCTV

Sama seperti para perajin tempe lainnya, Asikin, perajin tempe asal Kota Tegal juga harus memperkecil ukuran tempe. Naiknya harga kedelai juga membuat produksi tempe di tempatnya menurun.

Kalau biasanya dia dalam sehari mampu memproduksi sebanyak 50 kg tempe, saat ini dia hanya mampu memproduksi tempe antara 15-20 kg tempe per hari. Selain memperkecil ukuran tempe, dia juga terpaksa meliburkan para pekerja yang sudah bekerja puluhan tahun di tempatnya.

“Keuntungan jelas berkurang jauh. Apalagi pelanggan kan nggak mau tau padahal kedelai naiknya kan melonjak tinggi,” ujar Asikin.

Harga Tahu Naik

curhat perajin tempe di jateng

©YouTube/Liputan6 SCTV

Sementara itu di Sukoharjo, melonjaknya harga tempe membuat para perajin tahu di Desa Wirogunan terpaksa menaikkan harga tahu Rp50 dari harga sebelumnya. Walau begitu mereka tetap mempertahankan ukuran tahu.

“Lima puluh rupiah sampai seratus rupiah. Tergantung pesanannya minta yang besar atau yang kecil. Alhamdulillah kita juga belum dapat keluhan dari pembeli karena kita potongannya masih sama,” kata Danarti, salah seorang perajin tahu.

Para perajin tahu di Desa Wirogunan bisa menghabiskan kedelai hingga 7 kuintal per hari. Mereka berharap harga kedelai bisa kembali stabil agar tidak gulung tikar.

(mdk/shr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP