Kementan: Harga Daging Sapi, Ayam dan Telur Tak Lebihi Batas Atas

Jumat, 31 Mei 2019 21:15 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Kementan: Harga Daging Sapi, Ayam dan Telur Tak Lebihi Batas Atas daging sapi. merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita membeberkan kondisi harga bahan pangan asal hewan di Indonesia. Berdasarkan pantauan pada minggu keempat April 2019 sampai Mei 2019 harga ayam broiler di farm gate atau di tingkat produsen berada di level Rp20.000.

"HPP (Harga Pokok Produksi) ayam broiler di tingkat produsen, atau farm gate Rp18.000 sampai Rp20.000 dan di lapangan paling tinggi Rp20.000. Jadi tidak di atas HPP," kata dia, di Kementerian Pertanian, Jakarta, Jumat (31/5).

Harga telur ayam juga terpantau tidak melebihi HPP. Dia mengakui bahwa harga telur fluktuatif di di sejumlah daerah. "Telur ayam juga demikian Rp18.000 sampai Rp20.000. Jadi kita lihat harga telur ayam itu tidak melewati batas ambang Rp20.000. Di Kaltim, Kepri masih ada kenaikan sedikit. Tapi tidak terlalu tajam," jelas dia.

"Yang mengalami gejolak memang di Jateng, di Sumsel, dan DIY. Harga naik turun di situ. Tapi yang paling tenang harganya di Bali, Sumut, Sumbar relatif tenang, harganya datar," lanjut dia.

Untuk harga daging sapi di pasar tradisional, pihaknya memantau sejumlah daerah yakni, Bali, Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Per 27 Mei 2019, untuk wilayah Bali harga rata-rata daging sapi Rp102.000 per kilogram.

"Kemudian di Jawa Timur Rp105.000 sampai Rp106.000, Sumatera Selatan Rp115.000 sampai Rp121.000, di DKI Jakarta Rp121.000 sampai hampir Rp122.000. Untuk lebaran memang di DKI untuk hari raya harga sudah di intervensi daging sapi dan ada juga daging kerbau," urainya.

Sejauh ini, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah dengan harga daging sapi paling murah di tingkat peternak. "Untuk harga di farm gate atau peternak, daging sapi itu yang paling murah hari ini per kilogram berat badan ada di NTT. Jadi memang NTT provinsi yang swasembada daging karena tidak pernah memasukkan daging tapi malah men-supply provinsi lain. Kemudian diikuti DIY, bali Sumsel," ungkapnya.

"Harga paling tinggi ada di Kepri. Kami sudah koordinasikan intervensi di sana oleh integrator sehingga kawan-kawan kita di kepri bisa lebaran dengan sebaik-baiknya," imbuhnya.

Terkait perkembangan harga daging ayam di pasar tradisional pihaknya juga memantau di empat daerah tadi. Di Sumatera Selatan harga daging ayam berada di kisaran Rp28.000 sampai Rp33.000.

"Kemudian di Jawa Timur Rp30.000 dari Rp31.000 kemudian pernah sampai ke Rp33.000. Bali Rp35.500 sampai Rp36.750 harga daging ayamnya. DKI rata-rata Rp35.000 sampai Rp34.000 tapi sempat pada 27 Mei itu harganya Rp38.150," ujarnya.

"Harga ini berfluktuasi tiap hari, tapi tidak terlalu tajam. Begitu peningkatan tajam kita intervensi," tegas dia.

Dia menambahkan, untuk perkembangan telur ayam ras di pasar tradisional di keempat daerah, khusus 20 sampai 27 Mei terpantau harga yang paling paling rendah ada Jawa Timur. "Karena pusat telur ayam ada di Blitar, kemudian Sumatera Selatan, di Bali naik sedikit Rp23.000 dan Rp22.000, kemudian di DKI Jakarta antara Rp23.000 dan Rp24.000 di pasar rata-ratanya," tandasnya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini