3 Faktor Penyebab Krisis Ekonomi dan Inflasi Global

Kamis, 23 Juni 2022 16:26 Reporter : Merdeka
3 Faktor Penyebab Krisis Ekonomi dan Inflasi Global Gubernur BI Perry Warjiyo. ©handout/Bank Indonesia

Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, menyebut ada tiga faktor utama yang menyebabkan risiko stagnasi dan inflasi yang terjadi di berbagai negara. Pertama, risiko yang berkaitan dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina termasuk juga pengenaan sanksinya yang menyebabkan gangguan pasokan energi dan pangan global serta gangguan mata rantai pasokan global.

"Ini yang kemudian menyebabkan tingginya harga-harga komoditas, harga energi maupun harga pangan global. Misalnya harga minyak kita perkirakan tahun ini bisa mencapai rata-rata nya USD 103 per barel. Demikian juga harga pangan juga meningkat tinggi, ini kemudian dari sisi pasokan menimbulkan resiko perlambatan ekonomi global, dari sisi kenaikan harga menimbulkan resiko dan terjadinya kenaikan inflasi diberbagai dunia," kata Perry dalam Pengumuman RDG bulan Juni 2022, Kamis (23/6).

Faktor kedua, adalah pengetatan kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) dan di berbagai negara maju. Pengetatan moneter ditempuh oleh sejumlah bank sentral terutama di negara-negara yang pertumbuhan ekonominya meningkat seperti di Amerika, atau di negara yang inflasinya tinggi, yang disebabkan karena tidak mempunyai ruang fiskal atau menaikkan subsidi di negara-negara tersebut.

Ruang fiskal yang terbatas disejumlah negara menyebabkan kenaikan harga komoditas global, berdampak pada meningkatnya harga-harga di dalam negeri.

Selain itu, sejumlah bank sentral juga menaikkan suku bunga, tidak hanya Amerika serikat saja, melainkan juga terjadi di Brazil, Malaysia, India, maupun sejumlah negara yang lain. Kenaikan suku bunga tentu saja menurunkan permintaan dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, enaikan kasus dan kebijakan zero covid-19 di China menyebabkan terjadi perlambatan ekonomi di sana. Menurut Perry, semua faktor-faktor ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global berisiko ke bawah. Bank Indonesia memperkirakan yang semula pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2022 ini dapat mencapai 3,4 persen menjadi 3 persen.

"Bacaan kami dengan 3 faktor tadi, menimbulkan risiko bahwa pertumbuhan ekonomi global dapat turun menjadi 3 persen pada tahun 2022 ini meskipun akan naik kembali tahun 2023 menjadi 3,3 persen. Ini menimbulkan kenapa terjadi perlambatan ekonomi global," tandasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Jokowi: Kita Masih Dalam Situasi yang Penuh Ketidakpastian
Bangkitkan UMKM, Gernas BBI Lagawi Fest Diharapkan Bantu Atasi Krisis
Sri Lanka Tutup Sekolah hingga Kantor Pemerintahan Akibat Krisis Ekonomi
Waspada, Ekonomi Global Merosot dan Ancaman PHK Mengintai
Kengerian Saat Ekonomi Dunia Ramai-Ramai Ambruk dan Nasib Indonesia Terkini
Ekonomi 60 Negara Ambruk, Jokowi Blak-blakan Gambarkan Kengerian yang Bakal Terjadi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini