Masyarakat Australia cuek soal isu penyadapan SBY
Merdeka.com - Profesor hukum dari Universitas Sydney, Simon Butt, ikut berkomentar soal penyadapan yang dilakukan negaranya terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sejumlah pejabat di Indonesia. Sepengetahuan dia, penyadapan tersebut bukan masalah penting bagi masyarakat negeri Kanguru itu.
"Tapi masyarakat di sana (Australia) melihat isu ini sebagai isu hubungan antar dua negara. Tidak terlalu signifikan, memang ini isu hangat di sejumlah media, tapi buat kami oh okay," kata Simon Butt di hotel Royal Kuningan, Jakarta, Senin (17/11).
Menurut Butt masih banyak isu lain yang menjadi perhatian masyarakat Australia. "Masih banyak yang harus diperhatikan seperti imigrasi, ekonomi, dan lainnya. Jadi ini ke arah masalah yang berisiko dan harus diselesaikan kedua negara," tutup dia.
Diketahui, berdasarkan dokumen Edward Snowden yang dikutip dari ABC dan Guardian pada Senin (18/11), menunjukkan intelijen Australia telah menyadap pembicaraan telepon SBY. Selain itu, intel Australia juga melacak aktivitas telepon genggam SBY selama 15 hari di bulan Agustus 2009.
Data itu berasal dari Agen Intelijen Elektronik Australia (Defence Signal Directorate sekarang berubah menjadi Australia Signals Directorate).
Tidak hanya itu, berdasarkan laporan tersebut, penyadapan juga ditujukan bagi pejabat dan orang dekat SBY, seperti Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla, Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng.
Selain itu Australia juga menyadap Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, Menko Ekuin Sri Mulyani, Menko Polhukam Widodo AS, dan Menteri BUMN Sofyan Djalil. (mdk/ren)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya