"JS Badudu" di merdeka.com yang kritis
Merdeka.com - Suatu pagi, di milis internal kami, yang melibatkan teman-teman redaksi, datang email koreksian: Eds, tolong koreksi tulisan berita ini dong. Di bagian bawahnya, di beberapa kalimat ada warna kuning stabilo yeng menunjukkan bahwa ada kalimat salah dan tidak sesuai logika atau kebolak-balik. Tidak sekadar soal salah ketik (typo), tapi juga soal pengulangan yang tidak perlu (redundancy). Eds dimaksud adalah sapaan buat team editor kami.
Di redaksi merdeka.com, siapapun boleh memberikan masukan, tak peduli apa profesi atau job desc yang bersangkutan. Yang penting benar dan masuk akal, maka rekan-rekan redaksi yang dituntut menulis benar dan cepat, akan menerimanya. Kalau kritikannya benar, maka akan sangat berterima kasih dan berbilang maaf serta siap salah. Maka tulisan akan segera dibetulkan. Kalau kritikannya tidak benar, bisa adu argumen, sebelum akhirnya ketemu yang benar dan sesuai kaidah bahasa Indonesia yang sesuai dan disepakati.
Nah, akhir-akhir ini ada JS Badudu baru rupanya di kantor kami. Tahu kan JS Badudu atau biasa juga disebut Jus Badudu atau lengkapnya Jusuf Sjarif Badudu? Dialah legenda hidup pelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dia pengajar bahasa di TVRI pada tahun 1980-an lalu. Aktif menulis kolom Bahasa di majalah Intisari. Kalau dia masih aktif, dan anak-anak kita sering nonton pelajarannya, barangkali kata-kata alay seperti saat ini banyak yang dikritisi atau bahkan gak ada yang benar.
Namun, bahasa pop dan pergaulan, tentu beda dengan bahasa jurnalistik. Apalagi bahasa yang baik dan benar. Merdeka.com yang mengusung tagline Let's be smart tentu semestinya menyampaikan dengan bahasa yang baik, karena media massa umum sehingga lebih pas berbahasa resmi. Meski, kita coba untuk tidak sekaku bahasa buku ilmiah namun populer.
Lantas, siapakah "JS Badudu" baru dimaksud? Tentu saja bukan Pak JS Badudu asli yang ada di merdeka.com, tapi dialah Benedictus Rendy Yoseph Yulianto.
Apa hubungannya Rendy -- demikian biasa dipanggil -- dengan JS Badudu?
Begini pembaca. Akhir-akhir ini Rendy lumayan sering mengkritik tulisan team redaksi. Tidak sekadar typo, tapi dia bisa memberikan masukan mengenai salah konteks, beberapa pengulangan yang tidak perlu, dan sebagainya. Dia menjadi "watch dog" internal kami yang lumayan efektif. Meski belum sempurna, kehadiran Rendy cukup membantu perbaikan yang terus-menerus diperlukan bagi media kesayangan Anda ini.
Kami menyebut Rendy sebagai JS Badudu bukan tanpa alasan. Sebab, sejak kecil di tempat tinggalnya di Malang, Jatim, dia diwajibkan untuk membaca artikel tentang Bahasa Indonesia oleh ibunya yang adalah guru SD. Artikel tersebut adanya di majalah Intisari. "Saya belum pernah belajar bahasa secara akademik, hanya terbiasa dari hobi membaca saja. Bacaan wajib dari mama itu Intisari, terutama kolom bahasa JS Badudu," demikian pengakuannya.
Karena sudah menjadi "makanan pokok", maka jadi keterusan. Sehingga, kalau menemukan penulisan yang kurang sesuai, rasanya mau memberikan masukan. "Mohon maaf kalau kritikan saya membuat tidak berkenan buat kawan-kawan," kata lelaki yang suka baca buku marketing dan pelahap artikel koran ini. Sekarang, bacaan wajibnya koran digital alias web berita.
Lelaki yang hobi makan martabak telor dan es duren ini, asli arek Ngalam. Setelah lulus SMP di Malang, dia pindah melanjutkan SMA di Jakarta. Sempat bekerja di perusahaan advertising, rupanya ia rindu untuk pulang kampung. Jadilah dia bergabung dengan tim product development yang dikerjakan di Malang -- markas kedua kami di Jawa Timur -- selain Tebet, Jakarta.
Meski baru sekitar 7 bulan bergabung, keberadaannya cukup terasa. Di produk, dia harus mendengar keinginan pengelola halaman (content manager / CM), kemudian menuangkannya dalam ide, sampai memastikan bahwa di web akan running well. Yang merasakan keberadaannya, tidak hanya tim product development, tapi juga redaksi. Dia juga cepat terkenal -- kalau tidak boleh disebut tercemar!
"Pas ulang tahun KLN grup kemarin, dia jadi bencong hahahaha," kata Ivan Valentino, kolega Rendy. Ucapan Ivan dibenarkan oleh Rita S, pengawal editor di markas Malang. "Rendy ini lanang tenan, tapi dia dandan banci jadinya cepat terkenal. Ngakak pol. Supel ini anaknya," tukas Rita yang biasa disebut bunda oleh teman-teman yuniornya. Meski pernah dandan banci, dia memang sebenarnya tetap macho: hobinya futsal. Dengan bekal keluwesan dan kesupelan bergaul, tak heran bila dia cepat adaptasi dan mudah diterima banyak pihak.
Oh ya, soal hubungannya dengan JS Badudu memang seperti idola berat. Meski diakui itu karena secara tak langsung terdoktrin nasihat mamanya. "Tapi ya itu tadi, karena sudah terbiasa membaca kolom JS Badudu dari kecil, jadi kalau ada bacaan yang kurang enak bisa ngeh," tambahnya. Hal ini pernah menimbulkan persoalan ternyata. "Berkat beliau (JS Badudu), selama saya sekolah sering debat sama guru killer Bahasa Indonesia, hahahaa," kenangnya.
Pembaca, salah satu kunci kemajuan adalah keterbukaan berpikir, termasuk menerima masukan positif. Siapapun itu, kalau memang memberikan masukan positif, maka akan meningkatkan kinerja kita bersama. Tim yang produktif, harapan kami, akan memberikan hasil produk yang kualitatif. Penilai akhir, ada pada Anda semua. (mdk/mdk)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya