YLKI catat 642 pengaduan sepanjang 2017, tertinggi belanja online 16 persen
Merdeka.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat 642 pengaduan umum sepanjang tahun 2017. Jumlah itu di luar dari pengaduan umrah yang mencapai 22.614 per Desember 2017. Artinya, total pengaduan yang masuk ke YLKI di 2017 sebanyak 23.229.
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi mengatakan, 10 besar dari 642 pengaduan terdiri dari belanja online 16 persen, perbankan 13 persen, perumahan 9 persen, telekomunikasi 8 persen, listrik 8 persen, leasing 6 persen, paket 6 persen, transportasi 5 persen, otomotif 3 persen dan TV kabel 2 persen pengaduan.
"Yang paling menohok dari pengaduan YLKI adalah belanja online. Saat ini yang paling tinggi adalah belanja online," kata Tulus di Kantornya, Jakarta, Jumat (19/1).
Lanjut dia, tingginya pengaduan terhadap belanja online disebabkan oleh lemahnya regulasi. Di mana sampai saat ini pemerintah belum mengesahkan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang belanja online, yang sebenarnya aturan itu akan menjadi payung hukum.
Selain itu tidak adanya itikad baik dari operator belanja online terhadap pengaduan konsumen ketika melakukan transaksi. "Kemudian ketidakmengertian konsumen dalam belanja online itu sendiri," ujarnya.
Dia memaparkan, dari 16 persen atau 101 aduan konsumen, ada 8 toko online yang banyak diadukan konsumen yakni Lazada 18 aduan , Akulaku 14 aduan, Tokopedia 11 aduan, Bukalapak 9 aduan, Shopee 7 aduan, Blibli 5 aduan, JD.ID 4 aduan, Elevania 3 aduan.
"Keluhan dari belanja online itu terbanyak barang belum masuk. Itu mencapai 36 persen. Lainnya masalah sistem, refund tidak diberikan, barang tidak sesuai, dugaan yang di hack, cacat produk, pelayanan, harga, informasi dan barang telat diterima," jelasnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya