Waspada dampak perang dagang AS-China
Merdeka.com - Presiden AS, Donald Trump resmi menandatangani memorandum eksekutif pada Kamis waktu setempat. Memorandum tersebut menetapkan tarif sekitar USD 60 miliar atau sekitar Rp 827,34 triliun atas produk China. Kebijakan Trump ini memicu perang dagang karena termasuk pertama kalinya dalam aksi perdagangan yang dilakukan.
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia, Doddy Budi Waluyo menyebut, perang dagang antara AS dan China akan berimbas kecil pada Indonesia. Sebab, nilai ekspor baja dan aluminium Indonesia ke Amerika Serikat terbilang kecil.
"Masalahnya gini, kalau misalkan terjadi perang dagang dari China tentunya dampak terhadap Indonesia adalah langsung pada ekspor baja dan aluminium. Kebetulan kita ekspor ke Amerika untuk baja aluminium itu memang porsinya kecil," kata Dody saat ditemui di Komisi XI, Selasa (27/3).
Di sisi lain, impor Amerika Serikat ke Indonesia juga terbilang kecil, yaitu hanya 1,3 persen saja. Artinya pengaruh perang dagang masih sangat kecil. Sedangkan Indonesia sendiri lebih banyak ekspor komoditi baja dan aluminium ke China.
"Ekspor kita meningkat tapi kalau dilihat di struktur impornya Amerika Indonesia hanya 1,3 persen. Jadi kecil pengaruhnya kepada Indonesia. Kita sendiri lebih banyak ekspor ke China untuk kedua komoditi tadi," katanya.
Namun demikian, Indonesia perlu waspadai dampak ekonomi global dari perang dagang tersebut. "Pengaruhnya adalah keseluruhan, karena volume dagang dunia akan melambat, dan itu kita harapkan tidak terjadi karena semuanya akan berpengaruh kepada semua negara."
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya