Wapres Ma'ruf Nilai Sistem Syariah Kunci Atasi Kesenjangan Ekonomi
Merdeka.com - Wakil Presiden sekaligus Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat MES, Ma'ruf Amin mengakui, bahwa kesenjangan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Bahkan, persoalan ini muncul sebelum pandemi Covid-19 melanda Tanah Air.
"Harus diakui bahwa sebelum pandemi Covid-19 melanda kegiatan ekonomi umat masih tertinggal. Dengan kesenjangan (ekonomi) yang melebar," tuturnya dalam Webinar Masyarakat Ekonomi Syariah 7th Indonesia Islamic Economic Forum (IIEF), Sabtu (23/1).
Dia menyebut, tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan persoalan kesenjangan ekonomi di Indonesia selain dengan sistem ekonomi syariah. Mengingat sistem ekonomi ini diyakini mampu meningkatkan partisipasi umat dalam kegiatan ekonomi.
"Tidak ada jalan lain selain kita harus mampu melibatkan sebanyak-banyaknya lapisan umat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi (syariah)," terangnya.
Menurut Wapres Maruf, ini lantaran mayoritas penduduk Indonesia merupakan kaum muslim. Alhasil pasar ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air sangat seksi.
Maka dari itu, dia meminta upaya pengembangan ekonomi syariah dalam negeri bisa dilakukan secara optimal. Menyusul besarnya potensi pasar yang belum dimaksimalkan sampai saat ini
"Kegiatan ekonomi harus kita tumbuhkan dengan memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Demikian pada gilirannya dapat mengurangi lebarnya kesenjangan di negara kita," tambahnya.
OJK Optimis Keuangan Syariah Indonesia Bakal Kalahkan Negara Lain
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso optimistis sektor keuangan berbasis syariah Indonesia akan naik kelas dalam skala global dan mengalahkan negara muslim lain.
Hal ini tercermin dari kondisi keuangan syariah yang semakin kuat. Bahkan di tengah pandemi, Indonesia menyabet juara dalam laporan kinerja keuangan syariah global.
"Di Islamic Finance Development Report 2020, kita ranking 2 global sebagai The Most Developed Country in Islamic Finance," ujar Wimboh dalam paparannya di Webinar Sharia Economic Outlook 2021, Selasa (19/1).
Kemudian, dalam laporan The State of Global Islamic Indicator Report 2020/2021, keuangan syariah Indonesia mendapat peringkat ke-4. Indonesia juga masuk dalam 10 besar di semua kategori, meliputi makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, media dan rekreasi bertema islami, obat-obatan dan kosmetik halal, serta keuangan syariah.
"Ini indikator yang memberikan keyakinan bahwa ke depan akan lebih baik lagi keuangan syariah kita dan bisa menjadi kelas dunia, bisa kalahkan negara lain," kata Wimboh.
Di tahun 2020, kinerja lembaga keuangan syariah lebih baik dari pada lembaga keuangan konvensional. Aset tumbuh cukup tinggi menjadi 21,48 persen dari 13,84 persen di tahun 2019.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya