Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Viral, Nasabah Bank Mandiri Kehilangan Tabungan Rp 128 Juta

Viral, Nasabah Bank Mandiri Kehilangan Tabungan Rp 128 Juta Bank Mandiri. ©Istimewa

Merdeka.com - Sebuah kabar tak mengenakan kembali mendera industri perbankan dan viral. Seorang nasabah berusia 49 tahun dikabarkan kehilangan dana di tabungan Bank Mandiri sebesar Rp 128 juta.

Kabar tersebut diunggah oleh akun twitter @Hlmimisan dan telah diretweet 15.100 kali dan mendapat 24.000 like.

"128juta HILANG.Bapak umur 49th udah nabung bertahun2, pihak bank berdalil transaksi sah, CS bilang angka kartu debit dimiliki dua katu, lah kok bisa2nya transaksi dianggap sah dan uang tidak diganti, bahkan OJK dan BI gabisa bantu, hasilnya NIHIl, wadu serem juga bank lama2 ye," tulisnya.

Bank Mandiri pun menanggapi perihal kabar viral ini. Corporate Secretary Bank Mandiri, Rudi As Atturidha mengungkapkan, berdasarkan investigasi internal, transaksi yang disanggah merupakan transaksi yang sah dengan Kartu Mandiri Debit dan PIN yang sesuai sehingga Bank Mandiri tidak bertanggung jawab dan tidak dapat memberikan penggantian atas dana yang hilang tersebut.

"Sehubungan dengan laporan kehilangan dana nasabah atas nama Asrizal Askha, kami sungguh prihatin dan menyesalkan kejadian kehilangan tersebut," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (22/5).

Dia melanjutkan, sesuai rekaman pengaduan nasabah ke call center 14000, pihaknya memperkirakan nasabah telah menjadi korban kejahatan dengan modus penukaran kartu debit dan penguasaan PIN. Sebab, kartu debit yang dipegang nasabah berbeda dengan kartu debit yang terdaftar di Bank Mandiri. Sedangkan kartu yang dipakai bertransaksi tidak lagi dalam penguasaan nasabah.

"Kami juga telah menyampaikan dan menindaklanjuti permasalahan tersebut kepada nasabah dan pihak terkait lainnya," tuturnya.

Kami mengimbau kepada seluruh nasabah Bank Mandiri untuk menjaga kartu Mandiri Debit dan kerahasiaan nomor PIN dan tidak menginformasikannya ke siapapun juga, termasuk orang-orang yang mengaku karyawan Bank Mandiri.

Bank Mandiri: Transformasi Digital Harus Dilakukan Hati-Hati

transformasi digital harus dilakukan hati hatiRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Direktur Informasi Teknologi Bank Mandiri, Rico Usthavia Frans menyebut bahwa transformasi digital di perbankan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Sebab perlu proses panjang untuk melakukan transformasi.

"Kami punya cabang dan ATM yang banyak, transformasi ini tidak bisa dilakukan dengan cepat," kata Rico dalam diskusi bertajuk Traditional Bank VS Neo Bank, Jakarta, Selasa (17/11).

Rico menyebutkan, Bank Mandiri memiliki lebih dari 2.000 kantor cabang dan lebih dari 1.000 mesin ATM. Untuk itu, mengganti inti bisnis bank bukan hal yang mudah. Diperlukan langkah yang harus hati-hati. Sebab, jika tidak, potensi jutaan nasabah bisa saja hilang.

"Makanya transformasi itu langkah yang harus hati-hati karena berapa juta nasabah kita bisa hilang," kata dia.

Alternatif masuk ke dalam neobank atau bank digital yaitu dengan cara membeli atau mengakuisisi bank. Rico menyebutkan bank himbara dan BCA bisa saja melakukan hal tersebut.

Rico menuturkan berdasarkan statistik Bank Mandiri hanya 4 persen transaksi perbankan yang dilakukan di kantor cabang. Sementara 96 persen telah menggunakan e-channel.

Dari jumlah tersebut 60 persen di antaranya menggunakan mobile banking. Saat ini, 75 persen penggunaan mesin ATM digunakan hanya untuk mengambil uang tunai.

"Artinya hampir semua transaksi non cash itu pindah ke digital," kata dia.

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP