Uang Pas-Pasan Jadi Alasan Masyarakat Kota Tunda Menikah
Merdeka.com - Indonesia kini dibayang-bayangi penurunan fertilitas atau angka kelahiran. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa bahkan menilai Indonesia berpotensi tak lagi menjadi negara keempat dengan penduduk terpadat di dunia.
"Pertumbuhan populasi kita melambat setiap tahunnya, dengan rata-rata pertumbuhan hanya 0,67 persen di periode 2020 hingga 2050," kata Suharso, Selasa (16/5).
Dalam data World Population Prospects, fertilitas Indonesia berada di level 3,10, yang artinya rata-rata setiap satu wanita melahirkan tiga anak selama masa reproduksi.
Namun, memasuki tahun 2000, angka kelahiran mulai mengalami penurunan. Jika diakumulasi, tren penurunan kelahiran Indonesia hingga tahun 2022 mencapai 30,64 persen.
Kondisi fertilitas Indonesia memang belum mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan negara-negara Asia, bahkan Singapura, sebagai negara terdekat dari Indonesia. Namun, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengingatkan agar masyarakat Indonesia tidak menunda pernikahan, dan anak.
Mengutip Channel News Asia, tingginya biaya hidup hingga kekhawatiran terhadap tumbuh kembang mental anak, menjadi faktor utama orang dewasa memutuskan untuk menunda anak atau bahkan bahkan tidak menikah.
Ah Ying (34) seorang manajer pemasaran yang tinggal di Hongkong mengaku dirinya enggan memiliki anak. Meski sang suami sebaliknya.
Ah Ying melihat kondisi sosial saat ini cukup menyeramkan untuk dijalani anak-anak. Bahkan di usia balita, sudah akan dihadapkan dengan kompetisi yang sangat tinggi
"Anak-anak saat ini dituntut mempelajari banyak hal, mengambil kursus ini dan itu. Ini bukan hanya soal stress secara emosi tapi juga menjadi beban finansial. Jika saya tidak sanggup memfasilitasi hal yang terbaik untuk anak saya, sebaiknya memang saya tidak punya anak," ucap Ah Ying.
Dibandingkan memiliki anak sendiri, Ah Ying dan suami sepakat mengadopsi kucing. Keduanya tidak lagi membahas rencana memiliki anak.
Sementara di Indonesia, alasan menunda menikah ataupun memiliki anak karena finansial dan kultur sosial masyarakat tradisional.
Agaphe (30) bercerita bahwa ibunya kerap mencarikan jodoh untuknya. Namun, hingga saat ini belum ada hasil dari upaya perjodohan tersebut. Martha berujar, bahwa dia tidak memiliki cukup energi untuk membangun relasi pernikahan.
"Karena sudah habis waktu dan tenaga di jalan, pulang pergi Cileungsi-Gandaria, Jakarta Selatan, kepikiran untuk pacaran saja enggak sanggup," kata Agaphe merdeka.com
Sementara Olphin Munthe (34) resah jika harus menikah. Alasannya, prosesi pernikahan adatnya sangat panjang dan membutuhkan biaya besar. Pria asal Sumatera itu berujar, bahwa ada gengsi orang tua yang harus dijaga ketika anak laki-lakinya menikah.
"Biaya pesta saja besar. Nanti setelah nikah mau tinggal di mana anak orang? Belum cukup berani jika bicara finansial," ucap Olphin.
Pengguna akun twitter @BanyuSadewa mengutarakan bahwa banyak generasi muda menunda pernikahan karena beban finansial yang ditanggung sangat besar.
"Kenapa banyak generasi sekarang menunda nikah? Karena rumah, tanah, dan lain-lain mahal. Kenapa mahal? Karena generasi boomer sendiri yang beranak pinak, doyan borong aset, kemudian dijual mahal ke generasi sekarang. Apa yang terjadi? Ya betul, banyak bermunculan sandwich generation," cuitnya.
Berdasarkan laporan United Nations Population Fund, Hong Kong mengalami tingkat fertilitas cukup ekstrem dengan skor 0,8. Angka ini merupakan angka paling rendah di dunia.
Setelah Hong Kong, rendahnya tingkat fertilitas juga terjadi di Korea Selatan sebesar 0,9 Kemudian Singapura 1,0 dan Jepang 1,3. Idealnya, total fertilitas yaitu 2,1. Untuk total fertilitas Indonesia saat ini masih 2,7.
Rendahnya total fertilitas juga menjadi perhatian khusus di negara-negara barat. Di Prancis, total fertilitas hanya 1,8 diikuti Amerika Serikat 1,7 dan Inggris 1,6.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya