Tingginya impor makin bikin kurs Rupiah terpuruk
Merdeka.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyebutkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor sangat tinggi, di tengah Rupiah yang tengah melemah (depresiasi) terhadap dolar Amerika. Hal itu justru akan membuat Rupiah semakin terpuruk.
Salah satu peneliti Indef, Esa Suryaningrum menyebutkan bahwa tingginya ketergantungan terhadap impor bisa memperparah depresiasi dan membayangi inflasi.
"Fenomena terkait dengan inflasi adalah ketergantungan atau dominasi impor. Jadi kita ini memang impor baik bahan konsumsi maupun bahan baku sangat besar," kata Esa dalam sebuah acara diskusi, di Kawasan Pasar Minggu, Selasa (3/7).
Esa mengungkapkan rasio impor terhadap ekspor di Indonesia cukup besar. Pada tahun 2017 saja rasionya mencapai 91,23 persen dan lebih besar lagi di 2018 ini. Anomali semakin besarnya impor khususnya barang konsumsi di tengah depresiasi, semakin memicu pelemahan rupiah.
"Nah karena rasio impornya terhadap ekspor relatif sangat tinggi karena lebih dari 90 persen, akibatnya dengan nilai Rupiah terhadap USD," ujarnya.
Dampaknya akan terasa pada kenaikan harga-harga barang konsumsi tidak tahan lama, makanan dan minuman rumah tangga, serta Bahan Bakar Minyak (BBM). Artinya potensi imported inf/ot/on semakin meningkat dan akan berujung pada penurunan daya beli masyarakat.
"Dampaknya, pasti harga-harga melonjak juga kemudian daya beli akan melemah."
(mdk/azz)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya